Membina hubungan yang sehat

Siapa yang tak ingin membina hubungan yang baik dengan orang lain, khususnya dengan teman, keluarga dan pasangannya? Kalau ditanya, apa kunci terjalinnya hubungan yang baik? Banyak orang menjawab bahwa kepercayaan, komunikasi, terbukaan, kejujuran dan komitmen adalah hal yang penting. Ya, hal itu adalah untuk menjaga sebuah hubungan agar bisa langgeng dengan baik.
Sebuah hubungan antar manusia pada dasarnya mengharapkan adanya sebuah pertumbuhan. Hubungan yang tidak sekedar begitu-begitu saja, namun ada hal yang bisa membuat makna. Sebuah hubungan tanpa makna akan menjadi kering dan membosankan. Lalu, bagaimana kita menjalin sebuah hubungan yang sehat? Hubungan ini tidak terbatas pada hubungan antara sepasang kekasih, tapi bisa juga antar teman, antara guru dengan muridnya, antar pimpinan dengan bawahannya, atau lain sebagainya.
Ada empat hal yang dibutuhkan manusia untuk tumbuh. Untuk menjadi pribadi yang bertumbuh, kita butuh kondisi dan lingkungan tertentu. Kadangkala, situasi yang tidak tepat membuat seseorang bukannya bertumbuh melainkan menderita.
Pertama, hubungan yang sehat adalah hubungan yang bisa membuat tertawa. Ada suasana yang menghibur. Kita tidak boleh mengabaikan hal ini. Dalam sebuah hubungan perlu ada entertaining. Tapi, bagaimana kalau kita memang tidak pandai melawak? Bagaimana kalau kita memang tidak tampak lucu? Sebenarnya ada banyak cara membuat hubungan ini menyegarkan dan menghibur. Saya yakin tiap manusia punya rasa humor dan menyukai hiburan. Manfaatkan waktu luang dengan berkomunikasi yang bisa membuat tertawa, menonton bersama, menikmati waktu yang menyenangkan. Ini sangat penting karena hubungan yang tidak menghibur akan menjadi kaku dan kering. Coba bandingkan teman-teman Anda yang bisa menghibur Anda dengan yang tidak, maka siapakah yang lebih Anda sukai untuk diajak makan siang bersama?
Yang kedua adalah, hubungan yang sehat adalah yang bisa memberi dukungan dan saling memberi dorongan. Ada orang tertentu yang bahkan bisa membuat kita patah semangat. Hubungan dengan orang seperti ini jelas tidak sehat. Tapi kalau kita bisa mendapatkan pasangan atau teman yang memberikan motivasi dan dukungan, maka hidup kita akan lebih bergairah. Untuk membina hubungan yang sehat, sebaiknya Anda juga membiasakan diri untuk selalu mendukung teman atau pasangan Anda. Jadi, kunci yang kedua adalah supporting.
Lalu, apa kunci yang ketiga? Pernahkah Anda berhubungan dengan seseorang yang membuat ide-ide kreatif Anda muncul? Atau mungkin Anda menjadi makin bersemangat untuk melakukan hal-hal baru? Orang seperti ini adalah yang mampu membuat Anda melakukan hal-hal yang tidak pernah Anda pikirkan sebelumnya. Hubungan yang sehat juga membutuhkan hal ini. Inilah kemampuan inspiring, atau bagaimana dalam hubungan tersebut terjadi proses saling menginspirasi.
Orang yang bisa mengispirasi dan membawa perubahan biasanya akan selalu kita kenang. Kita bisa memperoleh inspirasi dari sebuah novel, film atau ucapan seseorang. Memberi inspirasi juga bisa dilakukan melalui tindakan. Coba Anda pikirkan, siapa-siapa saja orang yang bisa memberi inspirasi bagi Anda? Saya yakin orang tersebut akan membuat hidup Anda lebih bergairah. Nah, bagaimana kita membuat diri kita juga bisa memberi inspirasi bagi teman, pasangan dan keluarga kita.
Kunci yang keempat, yang tak kalah pentingnya untuk membina hubungan yang sehat adalah sikap saling menghargai. Yang dimaksud di sini adalah ucapan dan tindakan yang appreciating. Apresiasi adalah sebuah bentuk respons yang mempunyai hubungan timbal balik antara dua pihak yang saling berkaitan. Apresiasi itu membutuhkan adanya perhatian, kesungguhan hati untuk memberikan penilaian.
Kadang kala, kesalahan terjadi ketika memberi komentar dengan asal-asalan. Misalnya saat anak ingin menunjukkan hasil karya gambarnya, kemudian mengatakan, “wah, bagus sekali.” Tapi melihat lukisannya hanya sepintas, tidak sungguh-sungguh. Ini sering tidak disadari, karena apresiasi itu membutuhkan kesungguhan hati dan upaya memperhatikan. Di sini butuh empati yang besar untuk bisa merasakan dan menghargai hasil orang lain.
Mari kita introspeksi diri, apakah kita sendiri telah menjadi seorang yang bisa entertaining, supporting, inspiring dan appreciating bagi orang lain? Jika ya, belum terlambat untuk berubah memperbaiki diri, sekaligus nantinya akan membuat hubungan Anda dengan orang lain juga semakin baik dan menyenangkan.
 [nur agustinus]



Reaktif atau Proaktif



Tadi pagi, waktu berangkat ke kampus, saat belok di persimpangan jalan, ada truk ngebut dan memotong jalur perjalanan saya seenaknya. Tentu saja reaksi normal adalah jengkel dan marah. Entah kebetulan atau bukan, kemarin saya membaca lagi sekilas buku "The 7 Habits of Highly Effective People", di mana kebiasaan pertama yang penting adalah jadilah proaktif. Reaksi orang atas sebuah peristiwa bisa dua pilihan, pertama reaktif, dan yang kedua proaktif. Dulu saya sempat mengalami kejadian serupa dan saya reaktif. Saya marah dalam hati, dan sepanjang jalan pikiran saya tak bisa lepas dari kemarahan saya pada pengemudi yang seenaknya. Tapi hari ini saya memilih untuk proaktif. Seperti saran di buku itu, saya lalu berkata dalam hati, saya maafkan kamu. Dan yang terjadi justru berbeda. Perasaan saya jadi tenang dan saya jadi bisa konsentrasi pada perjalanan saya berikutnya. Hati saya damai. Tak ada rasa dongkol dalam hati. Membuat hati tenteram itu memang sebuah pilihan...

Efikasi diri dan Adversity Quotient

Sehubungan dengan karakter seseorang, atau sifat, ada satu hal lagi yang sangat penting yang menunjang determinasi seseorang yaitu yang namanya efikasi diri atau self efficacy. Apa itu efikasi diri? Efikasi diri adalah sebuah keyakinan dari dalam diri orang tersebut, ada keyakinan bahwa dia mampu untuk melakukannya. Jadi ini berbeda dengan kepercayaan diri. Jadi, sebuah keyakinan bahwa orang itu atau misalnya kalau saya, bahwa saya yakin bahwa saya mampu melakukannya. Misalnya, saya harus pergi ke luar negeri. Saya kalau tidak yakin, maka saya akan menjadi ragu-ragu. Ini terlepas dari kepercayaan diri. Tapi kalau saya yakin, maka saya akan berusaha untuk bisa. Jadi self efikasi ini merupakan sebuah keyakinan bahwa saya mampu melakukannya. Jadi ini berkaitan dengan kompetensi sebetulnya. Ketika saya yakin, misalnya mampu membuka usaha sendiri, mampu membuat bisnis, maka saya akan bisa melakukannya dan kalau pun ada hambatan, saya akan tetap berjuang, saya akan tetap berusaha, saya tidak akan mudah menyerah. Kenapa? Karena saya mampu. Saya yakin bahwa saya mampu melakukannya. Nah, inilah suatu hal yang penting mengenai efikasi diri.
Selain itu, ada juga teori dalam psikologi yang namanya Adversity Quotient. Adversity Quotient ini adalah semacam kemampuan seseorang ketika mengahadapi masalah. Quotient di sini artinya sebetulnya mirip IQ, Intelligence Quotient, jadi tingkat keyakinan dia untuk mengatasi masalah, jadi daya tahannya. Ada orang yang ketika mengahadapi masalah seperti ilustrasi yang tadi, ada tembok dia mundur. Dalam teori Adversity Quotient ini ada beberapa tipe orang. Ada yang disebut dengan campers misalnya. Jadi ketika dia sampai pada suatu. Jadi ilustrasinya adalah dia menaiki sebuah bukit atau gunung. Ketika orang ini dia berjalan tentunya jalannya penuh terjal. Penuh kesulitan karena tidak ada yang mudah dan hidup selalu dalam keadaan tidak pasti. Dia melihat, kemudian menyerah. Dia berhenti di sini. Ini campers. Dia berkemah. Tapi ada juga yang kemudian dia turun lagi itu ada juga seperti ilustrasi tadi, ada yang berhenti, ada yang kembali. Tapi ada orang yang dia berusaha bisa tetap mempunyai daya juang, daya tahan, sehingga dia akhirnya sampai pada puncaknya.
Determinasi adalah kemampuan, adalah sifat, adalah dorongan di mana dia bisa yakin dan harus sampai ke puncak tujuan yang ingin di capai. Dia tidak akan berhenti di tengah-tengah. Kita sering kali misalnya begini. Kita punya ide mau buka usaha. Tapi orang tua mungkin bilang, “Ah, jangan. Kalau kamu buka usaha gina nanti kalau rugi? Gimana kalau misalnya ada orang beli barangmu itu tidak bayar? Bagaimana kalau misalnya krisis ekonomi terus berlanjut sehingga akhirnya modal yang kamu punya itu akhirnya habis?”

Orang yang memiliki determinasi yang tinggi, dia tidak akan peduli. Artinya apa? Kalu dia memiliki otonomi, dia yakin bahwa dirinya lah yang menentukan di mana ini sama juga dengan teori dalam efektuasi yang nanti akan kita jelaskan lebih lanjut dalam sesi-sesi yang lain, yaitu yang disebut dengan prinsip Pilot In The Plane. Kalau kita adalah pilot di pesawat kita, kita lah yang menentukan kita mau mendarat di mana, kita mau pergi ke mana. Jadi, determinasi adalah sebuah keyakinan, sebuah mindset, sebuah sikap, di mana kita harus sampai pada tujuan. Ada halangan, kita akan gunakan otak kita, untuk berpikir, untuk kreatif, untik inovatif, supaya bisa mengatasi hambatan tersebut. Jadi, kalau pun ada hambatan, kita tidak akan menyerah. Kalau pun ada masalah, kita akan berusaha untuk mengatasinya. Inilah kunci seseorang entrepreneur itu untuk bisa berhasil. Kalau pun gagal dia akan bangkit. Kalau pun gagal sepuluh kali, dia akan bangkit sebelas kali. Itulah determinasi.
Itu adalah prinsip yang sangat penting yang harus dipegang. Jangan sampai ada masalah, ada halangan, ada hambatan, atau mungkin misalnya hambatan itu bisa saja hambatan dari keluarga, dari budaya, bahwa, “O, kamu itu lebih baik jadi pegawai, lebih enak, tiap bulan dapat gaji, hidup pasti aman, nyaman”. Tapi kita tahu bahwa entrepreneurship itu yang mengubah dunia, entrepreneurship itu yang bisa mengubah bangsa, entreprenurship itu yang dapat mengubah diri kita. Itulah, kalau kita punya keyakinan, kita yakin bahwa kita bisa, kita punya otonomi atas diri kita, kita punya kompetensi yang selalu kita perbaiki, yang selalu kita tingkatkan, dan kita jangan lupa, membina hubungan dengan orang lain, relasi, network, dan membangun kerja sama semua itu butuh trust, kepercayaan, kejujuran, etika, semua itu akan sampai. Dengan keyakinan, dengan kemampuan, dengan sebuah tekad, saya pasti bisa, Anda pasti bisa.

Buku (Free Download)

Klik buku untuk baca atau download


http://www.slideshare.net/nur2008/bagaimana-lebih-sukses-di-tempat-kerja
http://www.slideshare.net/nur2008/bagaimana-hidup-lebih-bahagia 

http://www.slideshare.net/nur2008/kiat-bekerja-di-tempat-baru

http://www.slideshare.net/nur2008/menjadi-penjual-yang-sukses

http://www.slideshare.net/nur2008/bagaimana-menjadi-supervisor-yang-efektif

http://www.slideshare.net/nur2008/4-masalah-di-tempat-kerja
http://www.slideshare.net/nur2008/wiraswasta

http://www.slideshare.net/nur2008/bagaimana-meningkatkan-rasa-percaya-diri

http://www.slideshare.net/nur2008/melamar-kerja-wawancara

Gampang depresi karena genetik?

Saya melihat VCD yang dikeluarkan BBC seri Horizon dengan judul Designer Babies (dijual di toko vcd original), salah satunya mengemukakan tentang gen yang menentukan kepribadian manusia. Ada sebuah gen, yang jika ukurannya tertentu, maka membuat orangnya jadi pesimis, sementara kalau ukurannya berbeda, membuat orangnya optimis.
http://www.bbc.co.uk/science/horizon/1999/designer_babies_script.shtml

Secara umum, kalau dikatakan secara genetik mudah depresi, memang dirinya rentan terhadap masalah/stress. Namun walau dia orang yang secara genetik "kuat", sementara stress yang datang bertubi-tubi dan besar, maka bisa saja dia menjadi depresi.

Ketika saya kuliah MBA dulu, saya diajarkan matrix yang berkaitan dengan high risk high gain, serta no pain no gain, yang berhubungan dengan kemampuan manusia dalam merespon serta menghadapi stress atau masalah.

Teorinya begini: Masalah bisa dibagi dalam dua kategori, pertama adalah banyaknya (kuantitas) masalah, dan kedua adalah beratnya (kualitas) masalah. Dengan demikian, kita bisa membagi dari segi kuantitas ada dua (mau dibagi tiga juga boleh), yakni sedikit masalah dan banyak masalah. Dari segi beratnya, kita bisa membagi dua juga, yaitu masalah ringan dan masalahnya berat.

Nah, dengan demikian ada empat kategori, yaitu orang yang mampu dan suka menghadapi:
1. masalah sedikit dan yang ringan-ringan saja.
2. masalah berat/rumit namun jumlahnya sedikit saja
3. masalah banyak namun yang ringan-ringan saja
4. masalah berat/rumit dan dengan jumlah yang banyak.

Nah, dari segi "no pain no gain", maka yang nomor 4 harusnya menjanjikan hasil yang banyak.

Memang, setiap orang ingin hasil yang sebanyak-banyaknya. Namun banyak orang yang "salah tempat" karena ketika dia masuk ke daerah matrix yang tidak sesuai dengan kemampuan "mental"-nya, maka dia akan mengalami stress. Jika orang salah masuk tempat yang di bawah kemampuannya, maka dia juga akan merasa jenus. Seperti dalam grafik hubungan antara stress dan produktivitas, maka kalau stress terlalu rendah atau terlalu tinggi, maka produktivitas menurun.

Depresi berat bisa terjadi karena genetik karena memang dari sononya dia tidak bisa menghadapi masalah yang berat dan banyak. Namun ada juga yang karena faktor lingkungan. Ini tergantung dari ketahanan mentalnya. Sebagai contoh, ada orang yang rumahnya habis (seluruh hartanya habis) misalnya karena bencana, masih tenang dan menerima cobaan dengan tawakal, namun ada yang kemudian depresi berat.

Banyak orang mengatakan bahwa agama merupakan solusi. Sebab ketika orang mengalami tekanan, biasanya ingat om Han (kecuali kalau dia memang tidak percaya adanya tuhan). Di sini menjadi pertanyaan atau perlu dilakukan studi, apakah orang yang rentan terhadap masalah (secara genetik) bisa ditingkatkan dengan pengimanan terhadap agama?

Lalu, jika depresinya karena faktor genetik, apakah masih bisa diterapi? Maka jawabnya bisa diterapi. Dengan kehadiran teman, konselor, pendamping, obat, gejala depresinya bisa diringankan. Trus kalau ditanya, apakah bisa diubah? Jawabnya: ya dan tidak. Ya, karena dengan obat tertentu membuat otaknya menghasilkan neurotransmiter tertentu yang membuat orang gembira sehingga tidak depresi. Tidak, karena secara genetik yang tidak berubah. Itulah hebatnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bukankah ada yang mengatakan, "Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan kita..."
(nur agustinus)

Burnout Pada Atlet

Oleh: P. Susilowati, S.Psi

Joe adalah seorang atlet berprestasi yang mengalami tuntutan kerja yang berat karena dirinya diharapkan menang dalam suatu event bergengsi, setiap harinya ia dituntut untuk melakukan latihan dengan beban diatas kemampuannya, namun motivasinya adalah ekstrinsik (tergantung besarnya hadiah yang didapat), hal ini akhirnya menyebabkan dirinya mengalami kelelahan fisik dan mental sehingga pada saat pertandingan prestasinya menurun.

Atlet merupakan salah satu jenis profesi yang tergolong berat. Hal ini disebabkan atlet dituntut untuk senantiasa meningkatkan kualitas profesionalisme. Kualitas profesionalisme yang dimaksud antara lain keahlian, konsentrasi yang tinggi, pengetahuan, mampu bersikap profesional ketika dihadapkan pada persoalan yang berkaitan dengan rekan kerja; pelatih; keluarga dan lawan tanding.

Kondisi-kondisi tersebut tentunya dapat menimbulkan pressure sehingga si atlet akan rentan mengalami stres. Stres yang dialami dalam jangka waktu yang pendek dengan intensitas yang optimal sesuai kapasitas si atlet akan mampu meningkatkan motivasi berprestasinya. Jika seorang atlet mengalami stres dalam jangka waktu yang lama dengan intensitas yang tinggi maka akan menyebabkan kondisi tubuhnya tidak fit sehingga akan menyebabkan kelelahan fisik dan mental. Padahal seorang atlet harus memiliki kondisi tubuh yang fit dan energi yang cukup.

Kondisi kelelahan fisik dan mental pada atlet di istilahkan dengan burnout. Menurut Bunker (dalam Gunarsa, 2004), burnout adalah suatu kondisi yang dipenuhi oleh rasa jenuh sehingga banyak energi dan tenaga terbuang sia-sia. Dalam dunia olahraga, burnout merupakan suatu hal yang berdampak buruk karena dapat mempengaruhi prestasi (performance dan prestasi menurun). Jika si atlet mengalami burnout, apalagi pada saat bertanding maka akan mengakibatkan motivasi dan prestasinya akan menurun. Oleh karena itu, kondisi ini perlu diperhatikan oleh atlet dan pelatihnya.

Penyebab Atlet Mengalami Burn Out

Menurut Gunarsa (2004), burnout dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

1) Menurunnya motivasi
Menurut Herzberg ada 2 macam motivasi yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari keinginan seseorang itu sendiri. Faktor yang mempengaruhi motivasi intrinsik adalah pencapaian prestasi, pengakuan, tanggung jawab, kemajuan, dan kemungkinan untuk berkembang dalam organisasi. Seseorang yang dominan pada motivasi intrinsik maka akan menghasilkan kinerja yang lebih baik jika faktor penunjang tersebut ada. Tetapi kalau faktor tersebut tidak ada maka tidak akan berpengaruh pada kinerjanya. Motivasi ekstrinsik adalah sumber motivasi yang berasal dari luar seseroang. Sedangkan faktor yang mempengaruhi motivasi ekstrinsik adalah gaji, kondisi kerja, status, kebijakan organisasi, kualitas kepemimpinan, dan hubungan intrepersonal dalam organisasi. Seseorang yang dominan pada motivasi ekstrinsik tidak akan selalu dapat meningkatkan kinerjanya walau faktor penunjang tersebut ada. Namun jika faktor penunjang tersebut tidak ada, maka akan merasa tidak puas. Berdasarkan teori tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa atlet yang lebih dominan pada motivasi ekstrinsik akan lebih cenderung mengalami burnout daripada atlet dengan motivasi intrinsik. Ini disebabkan atlet yang dominan pada motivasi intrinsik akan dengan senang hati berlatih dan berjuang demi menjadi yang terbaik.

2) Keletihan
Jika beban latihan lebih berat daripada beban normal tubuh maka tubuh akan mengalami keletihan

3) Komunikasi yang kurang sehat dengan sesama atlet atau pelatih
Komunikasi yang sehat merupakan salah satu bentuk dukungan sosial. Jika komunikasi kurang sehat maka tingkat burnout akan semakin tinggi. Hal ini disebabkan dukungan sosial dari sesama atlet, pelatih, dan keluarga memiliki andil dalam membantu menurunkan beban seseorang yang mengalami burnout

4) Tuntutan pekerjaan
Menurut Baron dan Greenberg (1995) tuntutan pekerjaan merupakan salah satu faktor yang penyebab burnout karena bagi seseorang yang emosional, tuntutan kerja dipersepsi sebagai sesuatu yang berat. Sedangkan bagi seseorang yang stay cool, tuntutan kerja dipersepsi sebagai sesuatu yang masih dapat dikelola dan dapat mengembangkan kemampuannya.

5) Prosedur dan aturan yang kaku
Aturan dan prosedur yang kaku akan menghambat seseorang yang emosional untuk mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik sehingga seringkali mereka merasa kesal.

6) Kurangnya reward
Seseorang yang emosional akan merasa tidak pernah dihargai dan merasa pekerjaannya tidak berharga jika reward yang diterimanya kurang. Hal ini mengakibatkan munculnya rasa putus asa.

7) Terasing dari komunitas
Seseorang yang emosional akan cenderung merasa tidak ada semangat tim, frustrasi, marah, merasa terasing sehingga komunitasnya terasa mengisolasi dirinya.

8) Jenis Kelamin
Biasanya perempuan menunjukkan frekuensi yang lebih besar untuk mengalami burnout daripada laki-laki karena sering mengalami kelelahan emosional.
Dengan mengetahui faktor penyebab burnout diharapkan atlet dan pelatihnya menjadi peka. Namun, atlet dan pelatihnya perlu mengetahui apa saja gejala-gejala dari seorang atlet yang mengalami burnout sehingga dapat mendetekasi apakah ada yang mengalaminya, jika ada harus segera ditangani.

Gejala-gejala Atlet yang mengalami burnout


Menurut Gunarsa (2004), atlet yang mengalami burnout akan menunjukkan beberapa gejala fisik dan mental. Adapun gejala fisik meliputi mudah lelah dan letih, berat badan mengalami penurunan, kekuatan dan energi menurun, otot-otot melemas, merasa ada anggota tubuhnya yang sakit, sering mengeluh sakit kepala, mual, kehilangan nafsu makan, mengalami gangguan pecernaan, gangguan tidur, dan denyut nadi meningkat. Sedangkan gejala mental meliputi mudah bosan, gelisah, minat untuk latihan menurun, motivasi menurun, mudah tersinggung, mudah marah, bersikap sinis pada orang lain, cenderung melakukan tindakan yang merugikan (bagi dirinya sendiri, pekerjaan, organisasi), merasa tidak berharga, merasa tidak puas dengan hasil kerjanya, merasa tidak pernah melakukan sesuatu yang bermanfaat (bagi diri sendiri dan orang lain), menarik diri, apatis, tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya, undoing, dan depresi.

Solusi Mengatasi Burnout Pada Atlet

Jika Anda seorang atlet dan kebetulan sedang mengalami burnout, maka ada beberapa solusi yang dapat Anda lakukan, yaitu:

1. Mempertahankan motivasi intrinsik
Mempertahankan keberadaan motivasi intrinsik bukanlah suatu pekerjaan mudah. Namun, hal ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Seorang atlet sebaiknya memiliki rasa percaya diri yang kuat sehingga akan mampu merencanakan sasaran yang tinggi.

b. Atlet harus menetapkan sasaran yang spesifik dan tingkat kesulitan dari sasaran yang ingin dicapai. Sebaiknya atlet memilih sasaran yang tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah. Hal ini akan membuatnya merasa tertantang dan berusaha untuk mencapai sasaran tersebut.

c. Atlet harus membuat rencana jangka pendek dan jangka panjang atas sasaran yang telah ditetapkan. Ini berarti ia harus membuat batu loncatan agar mampu meraih sasaran yang lebih tinggi. Caranya adalah dengan berusaha mengikuti kompetisi secara rutin dengan jenjang yang semakin tinggi. Selain itu, feedback yang diberikan oleh pelatih sebaiknya disikapi oleh atlet sebagai salah satu sarana untuk meminimalisir kekurangan yang ada pada dirinya.

d. Self talk
Ucapkan kata-kata dalam hati yang dapat menumbuh kembangkan optimisme dalam diri. Self talk ini berguna untuk memperkuat keyakinan atlet ketika sebelum dan saat bertanding.

e. Imagery training
Biasanya seseorang akan membayangkan kalau dirinya akan menghadapi lawan berat dan sulit dikalahkan. Kondisi ini secara tidak langsung akan melemahkan motivasi atlet. Oleh karena itu, hal ini harus diubah. Caranya dengan membayangkan kekuatan diri dan menciptkan kondisi yang objektif. Artinya, atlet sebaiknya tahu kelebihan dan kelemahan lawannya sehingga menemukan teknik tertentu untuk menghadapi lawannya. Setelah menemukan teknik tersebut maka ia harus percaya diri.

f. Lakukan pekerjaan dengan hati
Jika seseorang melakukan suatu pekerjaan sesuai dengan minat maka tidak akan menjadi beban bagi dirinya. Disamping itu, cobalah untuk merenungkan diri bahwa ketika Anda bekerja sebenarnya Anda sedang belajar (belajar untuk menjadi semakin lebih baik) bukan sekedar mencari penghasilan. Hal ini akan mendorong diri Anda sebagai kontributor bagi organisasi dimana Anda bekerja. Intinya, Anda sebaiknya belajar bagaimana menjadi human being (berusaha memberdayakan diri agar berguna bagi orang lain), bukan human having (mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya). Hal ini dapat dimulai dengan menetapkan prinsip bahwa “kita sebaiknya memberi terlebih dahulu, dan menerima kemudian”.

2. Mintalah ijin pada pelatih untuk menghentikan program latihan untuk sementara
Istirahat dapat memperbaiki performance (namun dalam kadar yang tepat). Jika seseorang bekerja terus-menerus tanpa istirahat maka performancenya akan menurun.

3. Berpikir positif
Dengan berpikir positif maka akan memunculkan rasa percaya diri, dan meningkatkan motivasi

4. Membuat mental log
Mental log merupakan catatan harian yang ditulis oleh setiap atlet setelah selesai melakukan latihan, pertandingan, atau event yang berkaitan dengan olahraga. Sehingga dapat memberi gambaran bagaimana cara ia dalam berpikir dan bertindak, termasuk ketika mengalami kekalahan. Dengan mental log maka atlet dapat mengetahui mana pikiran dan perasaan negative yang harus diubah menjadi pikiran dan perasaan positif.

5. Sharinglah dengan rekan sesama atlet atau pelatih (yang dapat dipercaya dan mampu menjadi pendengar yang efektif)
Sharing merupakan cara yang paling mudah untuk menyatakan emosi sehingga akan menurunkan tingkat stres.

6. Mulailah dengan memperbaiki diri Anda sendiri
Anda dapat memulainya dengan menemukan apa penyebab burnout yang Anda alami, siapa yang kira-kira dapat membantu Anda untuk mengatasinya, dan apa yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi burnout Anda.

7. Lakukan relaksasi secara rutin
Relaksasi dapat membantu untuk menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kinerja seseorang.

8. Konsumsi makanan yang sehat
Makanan yang sehat dapat membantu tubuh Anda untuk melepaskan diri dari stres. Selain itu, hindari kebiasaan buruk seperti merokok, minuman beralkohol, menggunakan narkoba, dll.

Semoga pembahasan ini, bermanfaat untuk meminimalisir terjadinya burnout pada atlet. Selamat berjuang demi kejayaan bangsa.

Daftar Pustaka
Gunarsa, S.D. (2004). Psikologi Olahraga Prestasi. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Baron, R.A., Greenberg, J. (1995). Behavior in Organization: Understanding and Managing The Human Side of Work. New Jersey : Prentice-Hall.

Pelukan Baik Untuk Perkembangan Anak

Pelukan Baik Untuk Perkembangan Anak  Ayahbunda.co.id
Image by : Dokumentasi Ayahbunda

 Sudah berapa kali Anda memeluk anak hari ini? Pelukan  merupakan obat mujarab untuk mengurangi rasa sakit dan membuat anak tumbuh percaya diri dan bahagia.

Pelukan dapat mengubah perilaku anak. Anda sudah membuktikan keampuhan pelukan  ketika bayi baru lahir,  saat ia menangis menjerit-jerit, padahal baru saja minum ASI dan diapersnya  juga kering. Namun tangisnya berangsur mereda, begitu ayah atau bunda  memeluknya, menepuk-nepuk pundak atau punggungnya. Pelukan Anda juga akan meredakan kekagetan dan rasa sakit  ketika  kepalanya terbentur, lutut terluka, dan kulit jarinya terkelupas sedikit, saat si balita mulai aktif bergerak.

Pelukan adalah obat yang mujarab.
  • Mengurangi depresi dan meningkatkan kekebalan tubuh. Pelukan juga bisa memberi energi baru pada tubuh lelah menjadi segar dan merasa muda. Pelukan yang dilakukan di rumah secara rutin akan memperkokoh tali kasih.
  • Jumlah hemoglobin atau sel darah merah dalam darah akan meningkat ketika seseorang disentuh. Hemoglobin adalah darah yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh termasuk ke jantung dan otak. Peningkatkan jumlah hemoglobin  bisa mencegah dan menyembuhkan penyakit.
  • Peluklah anak sebelum berangkat kerja, ini akan membuat orangtua fokus pada pekerjaan, bahagia, dan menjadi produktif.
Agar pelukan Anda  berdaya  penyembuh, sebelum memeluk anak:
  • Singkirkan hal-hal yang mengggangu pikiran seperti urusan pekerjaan yang belum selesai,  urusan rumah yang menumpuk, gagal menjaga pola makan dan rencana-rencana yang tertunda. Memberi pelukan dengan kepala dipenuhi oleh pikiran  akan  mengurangi energi dan kehangatan yang Anda berikan kepada si kecil. Sebab, saat memeluk si kecil, pikiran Anda tidak berada pada si kecil dan anak akan merasakan pelukan Anda yang ‘kering.’  
  • Bebaskan tangan dari semua benda yang selama ini paling sering ada di tangan seperti blackberry, telepon genggam, tas tangan, kunci atau majalah. Dengan begitu tangan Anda tercurah untuk memeluknya dan jari-jari Anda bisa membelai si kecil dengan leluasa.
Manfaat pelukan untuk anak:
•  Merangsang perkembangan sel otak
•  Mengurangi stress.
•  Merangsang rasa kantuk.
•  Membangun konsep diri  yang positif.
•  Mengurangi emosi negatif seperti kesepian, cemas dan frustasi.
•  Mengatasi rasa takut.
•  Transfer energi.

Sumber : Ayahbunda