Tampilkan postingan dengan label Kutipan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kutipan. Tampilkan semua postingan

Marketing Executive

Masing-masing posisi di dalam struktur organisasi di atas memiliki deskripsi jabatan dan spesifikasi jabatan tersendiri. Deskripsi jabatan merupakan suatu pernyataan yang teratur dari berbagai tugas dan kewajiban suatu jabatan tertentu, sehingga suatu deskripsi jabatan untuk posisi tertentu akan berbeda dengan deskripsi jabatan yang lain.

Fungsi Marketing Executive :
Membuat manager pemasaran dalam mengembangkan strategi pemasaran agar produk dapat diterima dengan baik. Sementara tugas-tugas dari marketing executive sebagai berikut :
  • Mencari dan memperoleh pelanggan baru 
  • Membina hubungan baik dengan para pelanggan
  • Menyampaikan informasi tentang produk dan jasa perusahaan pada para pelanggan
  • Menyampaikan informasi tentang produk dan jasa perusahaan pada para pelanggan
  • Memberikan berbagai pelayanan kepada pelanggan, memberikan penyajian yang efektif, memberikan nasehat atau saran sehubungan dengan masalah yang dihadapi pelanggan, memberikan bantuan teknis, dan penyerahan barang terhadap pelanggan.
Tanggung Jawab Marketing Executive terhadap :
  • Pencapaian target penjualan yang telah direncanakan
  • Informasi yang disampaikannya
  • Tugas- tugas yang didelegasikan

Wewenang Marketing Executive 
  • Mengusulkan konsep-konsep pemasaran yang relevan
  • Meminta nasihat, bimbingan dan petunjuk dari atasan
  • Meminta fasilitas yang dapat memperlancar pekerjaan
 Contoh Spesifikasi jabatan untuk marketing executive di suatu perusahaan adalah sebagai berikut :
  • Pendidikan : minimal S-1 dari seluruh disiplin ilmu 
  • Pengetahuan dan keterampilan : mampu mengoprasikan komputer dan berkomunikasi dalam bahasa inggris secara aktif
  • Status : belum menikah
  • Jenis kelamin :pria /wanita 
  • Usia : 24-30 tahun 
  • Kewarganegaraan : Indonesia 
  • Persyaratan fisik : berpenampilan menarik dengan berat badan dan tinggi badan proporsional 
  • Memiliki relasi yang luas dan mudah bergaul
  • Tingkat kecerdasan (IQ) minimal 110


sumber : Istiyanto.1999. 7 Proses seleksi karyawan. Universitas  Atma Jaya. Yogyakarta

Bagaimana mengelola kemarahan anda dalam : 60 Detik


Marah adalah emosi yang normal. Masalahnya datang tergantung pada apa yang kita lakukan dengan kemarahan kita. Ekspresi selain berbicara tentang kemarahan kita adalah tindakan atas kemarahan kita dan bisa bersifat destruktif bagi orang lain dan kita sendiri. Tujuan akhir kita adalah belajar mengekspresikan perasaan marah dengan tenang lewat kata-kata. Banyak dari kita belajar cara mengungkapkan kemarahan dengan lebih konstruktif dalam : 60 detik pertama pada saat marah. Dengan berlatih, anda akan mencapai sasaran akhir mengekspresikan kemarahan dengan tenang lewat kata-kata dan hanya dalam : 60 Detik. Manfaatnya adalah anda merasa lebih dimengerti, bisa cepa memecahkan konflik dan merasa lebih bahagia dengan diri sendiri.

Empat Tahap : 60 Detik Manajemen Kemarahan : C.A.R.E 

Anda bisa belajar C.A.R.E, empat pelaksanaan teknik yang tepat unuk melakukan : 60 detik manajemen kemarahan, yaitu :

1) Commitment to change = Komitmen untuj mengubah diri
2) Awareness of your early warning signs = Kesadaran akan tanda peringatan diri Anda
3) Relaxation = Relaksasi
4) Exercising self-control with Time Outs = Latihan kontrol diri dengan waktu jeda

Dengan belajar melakukan C.A.R.E, anda akan ingat tahap : 60 detik manajemen kemarahan.

Sumber : Michael Hershorn dalam Buku Mengelola Kemarahan



Psikologi Humanistis


Psikologi humanis adalah pendekatan psikologi yang menekankan kehendak bebas, pertumbuhan pribadi, kegembiraan, kemampuan untuk pulih kembali setelah mengalami ketidakbahagiaan, serta keberhasilan dalam merealisasikan potensi manusia. Tujuan psikologi humanis adalah membantu manusia mengekspresikan dirinya secara kreatif dan merealisasikan potensinya secara utuh. Pencetus psikologi humanistik adalah Abraham Maslow.

Psikologi humanistik dapat dimengerti dari tiga ciri utama, yaitu:
  • Psikologi humanis menawarkan satu nilai yang baru sebagai pendekatan untuk memahami sifat dan keadaan manusia
  • Psikologi humanis menawarkan pengetahuan yang luas akan kaedah penyelidikan dalam bidang tingkah laku manusia
  • Psikologi humanis menawarkan metode yang lebih luasakan kaedah-kaedah yang lebih efektif dalam dalam pelaksanaan psikoterapi
Aliran ini muncul akibat reaksi atas aliran behaviourisme dan psikoanalisis. Kedua aliran ini dianggap merendahkan manusia menjadi sekelas mesin atau makhluk yang rendah. Salah satu tokoh dari aliran ini – Abraham Maslow – mengkritik Freud dengan mengatakan bahwa Freud hanya meneliti mengapa setengah jiwa itu sakit, bukannya meneliti mengapa setengah jiwa yang lainnya bisa tetap sehat.

Adalah Viktor Frankl yang mengembangkan teknik psikoterapi yang disebut sebagai logotherapy (logos = makna). Pandangan ini berprinsip:
a. Hidup memiliki makna, bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan sekalipun.
b. Tujuan hidup kita yang utama adalah mencari makna dari kehidupan kita itu sendiri.
c. Kita memiliki kebebasan untuk memaknai apa yang kita lakukan dan apa yang kita alami bahkan dalam menghadapi kesengsaraan sekalipun.
Frankl mengembangkan teknik ini berdasarkan pengalamannya lolos dari kamp konsentrasi Nazi pada masa Perang Dunia II, di mana dia mengalami dan menyaksikan penyiksaan-penyiksaan di kamp tersebut. Dia menyaksikan dua hal yang berbeda, yaitu para tahanan yang putus asa dan para tahanan yang memiliki kesabaran luar biasa serta daya hidup yang perkasa. Frankl menyebut hal ini sebagai kebebasan seseorang memberi makna pada hidupnya.
Logoterapi ini sangat erat kaitannya dengan SQ tadi, yang bisa kita kelompokkan berdasarkan situasi-situasi berikut ini:
a. Ketika seseorang menemukan dirinya (self-discovery). Sa’di (seorang penyair besar dari Iran) menggerutu karena kehilangan sepasang sepatunya di sebuah masjid di Damaskus. Namun di tengah kejengkelannya itu ia melihat bahwa ada seorang penceramah yang berbicara dengan senyum gembira. Kemudian tampaklah olehnya bahwa penceramah tersebut tidak memiliki sepasang kaki. Maka tiba-tiba ia disadarkan, bahwa mengapa ia sedih kehilangan sepatunya sementara ada orang yang masih bisa tersenyum walau kehilangan kedua kakinya.
b. Makna muncul ketika seseorang menentukan pilihan. Hidup menjadi tanpa makna ketika seseorang tak dapat memilih. Sebagai contoh: seseorang yang mendapatkan tawaran kerja bagus, dengan gaji besar dan kedudukan tinggi, namun ia harus pindah dari Yogyakarta menuju Singapura. Di satu sisi ia mendapatkan kelimpahan materi namun di sisi lainnya ia kehilangan waktu untuk berkumpul dengan anak-anak dan istrinya. Dia menginginkan pekerjaan itu namun sekaligus punya waktu untuk keluarganya. Hingga akhirnya dia putuskan untuk mundur dari pekerjaan itu dan memilih memiliki waktu luang bersama keluarganya. Pada saat itulah ia merasakan kembali makna hidupnya.
c. Ketika seseorang merasa istimewa, unik dan tak tergantikan. Misalnya: seorang rakyat jelata tiba-tiba dikunjungi oleh presiden langsung di rumahnya. Ia merasakan suatu makna yang luar biasa dalam kehidupannya dan tak akan tergantikan oleh apapun. Demikian juga ketika kita menemukan seseorang yang mampu mendengarkan kita dengan penuh perhatian, dengan begitu hidup kita menjadi bermakna.
d. Ketika kita dihadapkan pada sikap bertanggung jawab. Seperti contoh di atas, seorang bendahara yang diserahi pengelolaan uang tunai dalam jumlah sangat besar dan berhasil menolak keinginannya sendiri untuk memakai sebagian uang itu untuk memuaskan keinginannya semata. Pada saat itu si bendahara mengalami makna yang luar biasa dalam hidupnya.
e. Ketika kita mengalami situasi transendensi (pengalaman yang membawa kita ke luar dunia fisik, ke luar suka dan duka kita, ke luar dari diri kita sekarang). Transendensi adalah pengalaman spiritual yang memberi makna pada kehidupan kita.

sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_humanis
www.blogpsikologi.com

Memahami Peran Ayah

Para ahli psikolog dewasa ini cenderung meninggalkan hal-hal yang terlalu bersifat teoritis, dan banyak mengalihkan perhatian ke observasi langsung. Termasuk soal peran ayah. Sejak tahun 1970-an, banyak ahli psikolog secara langsung meneliti peran ayah dalam keluarga.

Hasil penelitian terhadap perkembangan anak yang tidak mendapat asuhan dan perhatian ayah menyimpulkan, perkembangan anak menjadi pincang. Kelompok anak yang kurang mendapat perhatian ayahnya cenderung memiliki kemampuan akademisi menurun, aktivitas sosial terhambat, dan interaksi sosial terbatas. Bukan bagi anak laki-laki, viri maskulinnya (ciri-ciri kelakian) bisa menjadi kabur.

Meski kebenaran hasil penelitian itu tidak mutlak, tetapi setidaknya mengungkapkan secara jelas keadaan pada masa pra-remaja. Blanchard dan Biller (1971) misalnya mencoba membandingkan empat kelompok anak dalam kemampuan akademiknya. Data diambil dari hasil ujian yang diberikan guru mereka di sekolah. Kelompok pertama adalah anak ditinggalkan ayah sebelum usia 5 tahun, kelompok ke dua adalah anak yang ditinggalkan ayahnya setelah usia 5 tahun.

Dalam anak yang ditinggalkan ayah sebelum usia lima tahun kelihatan sekali bahwa kemampuan akademiknya menurun dibandingkan dengan anak yang ayahnya terlibat penuh dalam proses pembinaan perkembangan anak.  Pengertian absennya ayah pada diri anak bisa karena meninggal, perceraian atau juga karena tidak terlibat dalam proses pembinaan langsung pekembangan anak.

Dari penelitian tersebut kemudian timbul pertanyaan, bagaiman sebaiknya peran ayah dalam membantu perkembangan anak. Apakah terus dipertahankan anggapan bahwa ayah itu kurang penting dalam perkembangan anak, lantaran ayah itu kurang melakukan kontak langsung dengan anaknya? Apa masih perlu dipertahankan pandangan lama bahwa pengaruh orang tua terhadap anaknya hanya terbentuk kalau ada kontak langsung? Bagaimana dengan kebiasaan kebanyakan ayah yang tidak aktif mengasuh anaknya ? Semua pertanyaan itu muncul karena timbul kesadaran baru dalam bidang pendidikan dan psikologi bahwa peran ayah sebetulnya tidak kalah pentingnya dengan peran ibu.

Tidak diragukan lagi bahwa ayah itu berperan penting terhaap perkembangan anaknya secara langsung. mereka dapat membelai, mengadakan kontak bahasa, berbicara atau bercanda dengan anaknya. Semua itu akan sangat mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya. 

Pengaruh ayah ini tentu saja tidak diterima begitu saja secara pasif oleh anak. Suatu interaksi pasti terjadi. Sifat hubungan ayah - anak selalu timbal balik. Anak juga dapat mempengaruhi ayahnya. Misalnya kalau anak menangis di waktu malam, aya terpaksa bangun. Hubungan timbal balik aktivitas ini memunculkan suatu proses sosialisasi antara ayah dengan anak. Ayah akan cepat memahami tingkah laku anaknya yang berusia 4 tahun yang cenderung bertingkah macam-macam. Anak misalnya merengek rengek minta naik pesawat atau gajah. Semua tindakan ini mempengaruhi perilaku ayah.

sumber : buku Psikologi Keayahan Drs. Save M. Dagun Penerbit Rineka Cipta

Beberapa Teori Keayahan


Teori-teori tentang keayahan baru muncul dan berkembang sejak tahun 1970-an , dan hasil berbagai penelitian banyak mengubah secara drastis konsep dan anggapan tentang keayahan.

Anggapan lama masyarakat ialah seorang ayah sesungguhnya tidak terlalu berperan dalam kehidupan anak. Dibandingkan dengan ibu, ayah memang kelihatan jauh dari anak-anak dalam kehidupan sehari-hari, lebih-lebih dalam masyarakat. Dua ahli terkenal yang bisa disebut memperkeuat pandangan lama ini adalah Sigmund Freud, seseorang psikoanalis, dan Jhon Bowlby, seorang ethologis Inggris. Teori dan dua tokoh ini sering menjadi referensi pemikiran menekankan bahwa tokoh ibu merupakan sentral dalam kehidupan anak.

Pikiran Freud yang paling penting dan masih berpengaruh sampai sekarang ialah teorinya tentang perkembangan sosial seseorang sangat ditentukan oleh pengalaman pada awal masa kanak-kanaknya. Menurut Freud, tingkat pemuasan pada masa kanak-kanak akan sangat mempengaruhi tingkah laku seseorang di kemudian hari.

Pemikiran Freud ini kemudian menjadi sorotan beberapa ahli, dan pandangan freud itu juga akhirnya digugat, apakah kegiatan yang dilakukan kaum ibu menjadi alasan menyampingkan peran tokoh ayah? Beberapa tahun belakangan ini teori Freud cenderung dipertanyakan.

Kemudian Muncul teori baru yang mencoba meninjau kembali kebenaran pikiran Freud. Pada tahun 1940-an dan 1950-an, Robert Sears dan Jhons Whiting misalnya mencoba meneliti kembali pemikiran Freud dan kemudian dikaitkan dengan toeri belajar modern. Kedua Psikolog ini berpendapat, anak-anak itu dapat memperoleh kepuasan apabila dorongan-dorongan biologis dasar seperti lapar dan haus diatasi. Dalam soal ini seorang ibu memang mudah dilihat penting bagi sorang anak terutama karena selalu menyuapkan makanan kepada anaknya. Sebaliknya, seorang ayah biasaya kurang terlibat dalam memberi makan. Tetapi tidak bisa begitu saja dapat disimpulkan ayah kurang berperan dalam perkembangan anak. 

Analisis dan anggapan bahwa faktor biologis yang membedakan peran ayah dengan ibu, kini memang tidak dianggap serius lagi dan hanya sebagai mitos aja. Ross de Parke bahkan menegaskan, faktor biologis itu tidak dapat digunakan lagi sebagai argumentasi untuk menjelaskan perbedaan peranan ayah dan perannya hanyalah suatu penyimpangan pikiran zaman. sudah mucul revolusi pemikiran yang menempatkan betapa tokoh ayah penting dalam proses pengasuhan dan perkembangan anak. Tidak dapat diterima lagi anggapan yang menempatkan ayah hanya sebagai tokoh sekunder dalam mendidik anak. Tidak ada alasan yang kuat pula untuk menempatkan terlalu tinggi posisi ibu dalam perkembangan anak. Kini, sudah sangat diragukan pandangan yang membeda-bedakan posisi ayah dan ibu terhadabanyak anak.

Di Zaman modern ini, sudah banyak sekali teori tentang keayahan, yang tidak kalah dengan berbagai analisis tentang keibuan. Keduanya memang sama penting tetapi sorotan terhadap peran keayahan itu masih tergolong baru, maka timbul banyak pertanyaan yang masih perlu waktu untuk menjawabnya secara tuntans.


sumber : buku Psikologi Keayahan Drs. Save M. Dagun Penerbit Rineka Cipta

Pengaruh Ketegangan dan Kecemasan terhadap Atlet


Ketegangan dan kecemasan dapat berpengaruh pada kondisi fisik mapun mental atlet yang bersangkutan. berikut ini merupakan perwujudan dari ketegangan atau kecemasan pada komponen fisik dan mental.

Pengaruh pada kondisi kefaalan
  • Denyut jantung meningkat. Artinya, atlet akan merasakan debaran jantung yang lebih keras atau lebih cepat.
  • Telapak tangan berkeringat. Misalnya atlet bulutangkis, tenis, atau tenis meja seringkali mengubah-ubah posisi tangan pada raket atau berusaha mengeringkan telapak tangan dengan cara menyekaya pada baju yang dikenakan.
  • Mulut kering yang mengakibatkan bertambahnya rasa haus.
  • Gangguan-gangguan pada perut atau lambung, baik yang benar-benar menimbulkan luka lambung maupun yang sifatnya seperti mual-mual.
  • Otot-otot pundak dan leher menjadi kaku. Kekakuan pada leher dan pundak ciri banyak ditemui pada penederita -penderita stres.
Pengaruh pada aspek psikis
  • Atlet menjadi gelisah.
  • Gejolak emosi naik turun. Artinya atlet menjadi sangat peka sehingga cepat bereaksi, atau sebliknya, reaksi emosinya menjadi tumpul.
  • Konstentrasi terhambat sehingga kemampuan berpikir menjadi kacau.
  • Kemampuan membaca permainan lawan menjadi tumpul.
  • Keragu-raguan dalam pengambilan keputusan. 
 Jika seorang atlet berada dalam kondisi kefaalan dan psikis seperti disebutkan di atas, tentu penampilannyapun akan ikut terganggu. Gangguan yang dialami oleh atlet adalah :
  • Irama permainan menjadi sulit dikendalikan.
  • pengaturan ketepatan waktu untuk bereaksi menjadi berkurang.
  • Koordinasi otot menjadi tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki. Misalnya sulit untuk mengatur. kekerasan atau kehalusan dalam menggunakan kontaksi otot-otot.
  • Pemakaian energi menjadi boros. Oleh karena itu, dalam kondisi tegang atlet akan cepat merasa lelah.
  • Kemampuan dan kecermatan dalam membaca permainan lawan menjadi berkurang.
  • Pengambilan keputusan menjadi cenderung tergesa-gesa dan tidak seusai dengan apa yang seharusnya dilakukan.
  • Penampilan saat sedang bermain menjadi dikuasai oleh emosi sesaat. Gerakan pun akan dilakukan tanpa kendali pikiran.
Daftar Pustaka
Gunarsa Singgih. 2004. Psikologi Olahraga Prestasi. Jakarta : Gunung Mulia.

Sejarah Psikologi Olahraga di Indonesia


Menurut Monty P. Satiadarma, dalam bukunya Dasar-dasar Psikologi  Olahraga (2000) dikemukakan sebagai berikut :


"Psikologi olahraga  di Indonesia merupakan cabang psikologi yang amat baru, sekalipun pada praktiknya kegiatan para psikologi di Indonesia telah berlangsung beberapa tahun lamanya. Secara resmi Ikatan Psikologi Olahraga (IPO) di Indonesia yang berada di bawah naungan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) baru dibentuk pada tanggal 24 Juli 1999 dan diketahui oleh Monty P. Satiadarma. 

Akan tetapi, psikolog singgih D. Gunarsa (d/h Go Ge Siong) bersama dengan psikolog Sudirgo Wibowo (d/h Ng Tjong Ping) telah memelopori kegiatan psikologi di dalam cabang olahraga bulutangksi sejak tahun 1967, dan sejak saat itu banyak atlet bulutangkis nasional yang memanfaatkan jasa psikolog dan ilmu psikologi dalam mencapai presetasi puncak mereka baik secara nasional maupun internasional. peran psikolog Singgih D. Gunarsa yang demikian dalam memelopori tumbuhnya psikologi olahraga di tanah air terus berlanjut selama lebih kurang dua dekade secara sendirian. Sekalipun ada beberapa psikolog lain yang sesekali turut memberikan sumbangan ilmu kepada dunia olahraga di tanah air, hanya Singgih D. Gunarsa-lah yang secara resmi dan berkesinambungan tercatat aktif berperan memberikan jasa psikologinya bagi keolahragaan di Indonesia."


Kesadaran mengenai betapa pentingnya faktor psikologis, faktor mental, sayangnya tidak disertai dengan tersedianya tenaga khusus yang telah mempelajari bidang baru tersebut secara formal. Pribadi-pribadi yang menyadari hal tersebut belajar sendiri dari buku, kepustakaan, mengikuti seminar dan pertemuan-pertemuan internasional, disamping belajar dari pakar-pakar dalam bidang ini. Tercatatlah nama-nama Dra. Ny. Saparinah Sadli (sekarang Prof. Dr. Saparinah Sadli) dan Dra. Ny. Suprapti Sumarmo Markam (sekarang Prof Dr. Suprapti Sumarmo Markam) keduanya pernah menangani atlet-atlet bulutangkis wanita yang dipersiapkan untuk perebutan piala Uber tahun 1970-an. Kemudian tercatatlah nama-nama Monty P. satiadarma, Yohannes Rumeser, Myrna R. Soekasah, Yoanita Nasution, Enoch Markum, Aryati Prawoto, Wismaningsih, Surastuti Nurdadi, Rosa Hertamina, Feisal, Wardhani, Gunawan dan Latief.

Empat Orang Tokoh Internasional dalam bidang psikologi Olahraga pernah didatangkan ke Indonesia. Utamanya tentu agar mengucurkan pengetahuan mereka dalam bidang psikologi Olahraga kepada semua. Menjelaskan mengenai pentingnya peranan psikologi untuk olahraga kepada para petinggi dalam bidang loahraga Indonesia, disamping juga berfungsi merangsang para psikolog Indonesia untuk mempelajari dan mengembangkan Psikolog Olahraga. Menyadari hal ini pada tahun 1992 FBSI mendatangkan Robert N. Singer, Mantan Presiden Internasional society for sport Psychology, dari University of florida. Tahun 1995, Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara, mengundang diater Heckfort (dari University of Munch, Jerman) dan Lars-Eric Unestahl (dari University Of Orebro Swedia ) dan terakhir Daniel Gould (dari University of North Caroline, Greensbor, Amerika) seorang tokoh Psikologi Olahraga Amerika yang banyak peranannya dalam mempersiapkan atlet-atlet Amerika ke Olimpiade. Daniel Gould, khusus didatangkan oleh fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara pada tahun 1997, yang juga memberikan ceramah kepada para pelatih dan pejabat-pejabat teras Koni Pusat dalam rangka persiapan menjelang SEA Games.

Daftar Pustaka
Gunarsa Singgih. 2004. Psikologi Olahraga Prestasi. Jakarta : Gunung Mulia.

Kecerdasan Pada Anak, IQ, EQ, dan CQ


Salah satu ciri anak yang cerdas adalah rasa keingintahuannya yang besar, selalu bertanya tentang banyak hal. Tidak puas dengan jawaban yang ada terus mengejar dengan pertanyaan susulan. Anak yang cerdas akan bertanya banyak hal karena memang dia ingin tahu jawabannya. Umumnya, jika anak tersebut bertanya, dia akan ‘mengejar’ jawaban kita dengan pertanyaan lanjutan, sampai orangtua bingung menjawabnya. Inilah salah satu ciri-ciri anak cerdas yang sebenarnya.

Menurut Gardner ada 8 tipe kecerdasan anak, yaitu :

a. Kecerdasan Linguistik (word smart) adalah kemampuan untuk secara sistematis melafalkan, menyusun kata-kata dan kalimat. Anak biasanya aktif berbicara, daya imajinasinya tinggi dan suka menceritakannya, anak cenderung suka mendengar cerita.

 b. Kecerdasan Logis Matematik adalah kecerdasan yang berhubungan dengan penanganan masalah / kasus. Anak biasa mengurutkan kejadian, pandai menghubungkan sebab akibat, dan dalam memecahkan masalah selalu dengan logikanya. Anak biasanya pandai berhitung, mengurutkan pola, dan mengklasifikasikan bentuk.

c. Kecerdasan Spasial adalah kecerdasan dimana anak mempunyai keserdasan dalam daya ingat, memori dan penglihatan. Anak sangat pandai memvisualisasikan, anak bias anya lebih menonjol di gambar dan melukis serta tepat dalam memperkirakan/ mengestimasi jarak.

d. Kecerdasan Kinestetik Jasmani adalah kecerdasan/keahlian di bidang fisik anak-anak yang pandai menari, suka kegiatan yang membutuhkan gerak, suka sekali dengan kegiatan olahraga, dalam belajar anak suka menyentuh, dan hal-hal yang kinestetik.

 e. Kecerdasan Musikal adalah kelebihan dalam mengekspresikan musik. Biasanya anak pandai bermain musik, sangat tertarik pada alat musik tertentu, pandai bernyanyi, sejak kecil bisa untuk membedakan suara, sangat cepat untuk menghapalkan lagu, kreatif menciptakan suara, kadang anak bisa lebih menikmati melakukan aktifitas dengan iringan musik.

 f. Kecerdasan Antar Pribadi adalah kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain. Biasanya anaknya mudah berteman, tidak takut dengan orang yang baru dikenal, anak biasanya mudah memahami teman, mempunyai empati tinggi , ciri yang paling menonjol adalah punya banyak teman, suka memimpin, mempunyai pengaruh yang besar.

g. Kecerdasan Intra Pribadi adalah kecerdasan yang berhubungan dengan pengendalian diri. Bisa secara tepat mengekspresikan perasaannya dan bisa lebih proporsional.

 h. Kecerdasan Naturalis merupakan ke cerdasan memahami alam sekitar. Anak bukan aset melainkan pribadi, yang artinya kebebasan mengembangkan dirinya sangat membutuhkan perhatian khusus. Disinilah tugas sebagai orang tua dalam memahami karakteristik anak, sehingga anak dapat berkembang sesuai dengan karakteristiknya.

Untuk mengukur tingkat kecerdasan anak, bisa melakukan tes IQ. Banyak faktor yang mempengaruhi taraf perkembangan intelegensi atau kognitif seseorang adalah faktor hereditas dan faktor lingkungan. Berdasarkan beberapa penelitian menunjukkkan bahwa pe ranan faktor hereditas terhadap perkembangan kognitif atau intelegensi seseorang terutama karena adanya rangkaian hubungan antara pertalian ke luarga dengan ukuran IQ. Sebagaimana hasil penelitian dari Erlenmeyer Kimling dan Jarvik, 1963, bahwa umumnya individu yang mempuanyai hubungan keluarga cenderung mempunyai IQ relatif sama atau similar.

Riset lain yang dilakukan oleh Jenks, 1972 dan Munsinger, 1978 menyimpulkan bahwa IQ anak lebih similar dengan IQ orang tuanya. Selain faktor hereditas, tara f intelegensi atau kognitif seseorang dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Tingkat kognitif atau intelegensi seseorang sangatlah ditentukan oleh pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya dari lingkungan.

Banyak studi maupun penelitian yang mendukung bahwa faktor lingkungan mempengaruhi tingkat kognitif atau intelegensi seseorang. Sebagai contoh dalam penelitian Kamin,1978, anakanak angkat yang hidup dalam lingkungan yang baik mengalami peningkatan IQ sampai 5 poin, sedangkan anak - anak angkat yang hidup dalam lingkungan kurang baik tidak mengalami peningkatan taraf intelegensi. Selain dipengaruhi oleh faktor hereditas dan lingkungan, tingk at kognitif atau taraf intelegensi juga dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, ras, budaya, dan asupan nutrisi (Monty & Fidelis, 2006).

Namun, IQ bukanlah segala-gal anya. Sebab, sekarang orang beranggapan bahwa kecerdasan emosional atau emotional quotient ( EQ )-lah yang memegang peran penting dalam mencetak anak sukses. Di dalam kecerdasan emosional itu terdapat pula kecerdasan sosial. Di sini anak bisa memahami dan mengerti orang lain. Ia juga bisa bersikap bijaksana atas apa yang ia alami dan hadapi. Untuk melatih kecerdasan emosional, orang tua harus menampilkan suasana damai dengan sikap saling menghargai satu sama lain, tekun, ulet dan banyak memberi senyum.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan EQ, yaitu :
a. kondisi fisik, berhubungan dengan keseimbangan tubuh, misalnya kesehatan, gizi, yang baik atau buruk dapat mempengaruhi emosi anak.

b. kondisi lingkungan, berkaitan dengan lingkungan yang kondusif dan rileks akan mendukung perkembangan emosi anak; berkaitan dengan hubungan yang baik dengan orang tua, teman atau lingkungan sosial akan mempengaruhi perkembangan emosi anak; berkaitan dengan suasana di sekolah, misalnya disiplin yang berlebihan dan sifat otoriter guru terhadap anak akan mengganggu perkembangan emosi anak.

c. Sikap orang tua, berkaitan dengan cara mendidik yang keras, dengan menggunakan metode hukuman akan mendorong perkembangan emosi yang tidak menyenangkan bagi anak; sikap overprotective dari orang tua akan menimbulkan rasa takut yang dapat mengganggu perkembangan emosi anak.

Perkembangan kreativitas anak (CQ) akan tumbuh dengan baik jika didukung beberapa kondisi, yaitu:
a. kreativitas tidak ditentukan oleh waktu. Hal ini berarti kebebasan anak bermain dengan gagasan dan konsep yang orisinil akan terbentuk melalui suasana yang bebas, tidak terkekang oleh waktu.

b. anak membutuhkan waktu dan kesempatan menyendiri untuk mengembangkan kehidupan imajinatifnya.

c. anak harus didorong untuk kreatif dan bebas dari ejekan dan kritikan yang sering diucapkan pada anak yang kreatif.

d. sarana untuk bermain dan sarana pendukungnya harus disediakan untuk merangsang dorongan eksplorasi yang merupakan unsur penting dari kreativita.

e. orang tua yang tidak terlalu melindungi anak akan mendorong anak untuk mandiri dan percaya diri, dua kualitas yang mendukung kreativitas anak

f. mendidik anak secara demokratis dapat meningkatkan kreativitas sedangkan cara mendidik otoriter dapat menghambat kreativitas.






Sumber : Elizabeth Hurlock, Perkembangan Anak Jilid I , 1978 
Sumber : Elizabeth Hurlock, Perkembangan Anak Jilid I , 1978 
Sumber : Layanan Informasi dan Konsultasi PAUD BPKB DIY
sumber  : http://e-journal.uajy.ac.id/828/3/2TA12160.pdf

Wilhem Wundt (1832 - 1920)


Wilhem wundt dilahirkan di neckarau pada tanggal 18 Agustus 1832 dan wafat di Leipzig pada tanggal 31 Agustus 1920. Wilhelm Wundt seringkali dianggap  sebagai bapak psikologi modern berkat jasanya mendirikan laboratorium psikologi pertama kali di Leipzig. Ia mula-mula dikenal sebagai seorang sosiolog, dokter, filsuf dan ahli hukum. Gelar kesarjanaan yang dimilikinya adalah dari bidang hukum dan kedokteran. Ia dikenal sebagai seorang ilmuan yang banyak melakukan penelitian, termasuk penelitian tentang proses sensory (suatu proses yang dikelola panca indra). 

Pada tahun 1875 ia pindah ke Leipzig, Jerman, dan pada tahun 1879 ia dan murid-muridnya mendirikan laboratorium psikologi untuk pertama kalinya di kota tersebut. Berdirinya laboratorium psikologi inilah yang dianggap sebagai titik tolak berdirinya psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang terpisah dari ilmu-ilmu induknya (Ilmu Filsafat & Ilmu Faal).

Sebelum tahun 1879 memangorang sudah mengenal psikologi, tetapi belum ada yang menyebut dirinya sarjana psikologi. Sarjana-sarjana yang mempelajari psikologi umumnya adalah para filsuf, ahli ilmu faal atau dokter.Wundt sendiri asalnya adalah seorang dokter, tetapi dengan berdirinya laboratorium psikologinya, ia tidak lagi disebut sebagai ajli ilmu Faal atau dokter. krena ia mengadakan eksperimen-eksperimen dalam bidang psikologi di laboratoriumnya.

Wundt mengabdikan diri selama 46 tahun sisa hidupnya untuk melatih para psikolog dan menulis lebih dari 54.000 halaman laporan penelitian dan teori. Buku-buku yang pernah ditulisnya antara lain: "Beitrage Zur Theorie Der Sines Wahrnemung" (Persepsi yang dipengaruhi kesadaran 1862), :Grund zuge der Physiologischen Psychologie" (Dasar fisiologis dari gejala-gejala psikologi, 1873) dan"Physiologische Psychologie".





Sigmund Freud


Sigmund Freud (lahir di Freiberg, 6 Mei 1856 – meninggal di London, 23 September 1939 pada umur 83 tahun) adalah seorang Austria keturunan Yahudi dan pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi.

Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious). Konsep dari teori Freud yang paling terkenal adalah tentang adanya alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku. Selain itu, dia juga memberikan pernyataan bahwa perilaku manusia didasari pada hasrat seksualitas (eros) yang pada awalnya dirasakan oleh manusia semenjak kecil dari ibunya. 

Pengalaman seksual dari ibu seperti menyusui. Selanjutnya mengalami perkembangannya atau tersublimasi, hingga memunculkan berbagai perilaku lain yang disesuaikan dengan aturan norma masyarakat atau norma ayah. Setelah kolega kerjanya yang bernama Alferd Adler mengungkapkan adanya insting mati di dalam diri manusia, walaupun Freud pada awalnya menolak pernyataan Adler tersebut dengan menyangkalnya habis-habisan. Pada akhirnya Freud menyejajarkan atau tidak menunggalkan insting seksual saja yang ada di dalam diri manusia, tetapi disandingkan dengan insting mati (Thanatos). 

Walaupun begitu, dia tidak pernah menyinggung bahwa sebetulnya asal teori tersebut mulanya dikemukakan oleh Adler. Freud tertarik dan belajar hipnotis di Perancis, lalu menggunakannya untuk membantu penderita penyakit mental. Freud kemudian meninggalkan hipnotis setelah ia berhasil menggunakan metode baru untuk menyembuhkan penderita tekanan Psikologis yaitu asosiasi bebas dan analisis mimpi. 

Dasar terciptanya metode tersebut adalah dari konsep alam bawah sadar, asosiasi bebas adalah metode yang digunakan untuk mengungkap masalah-masalah yang ditekan oleh diri seseorang tetapi terus mendorong keluar secara tidak disadari sehingga menimbulkan permasalahan. Sedangkan Analisis Mimpi, digunakan oleh Freud dari pemahamannya bahwa mimpi merupakan pesan alam bawah sadar yang abstrak terhadap alam sadar, pesan-pesan ini berisi keinginan, ketakutan dan berbagai macam aktivitas emosi lain, hingga aktivitas emosi yang sama sekali tidak disadari.

Sehingga metode Analisis Mimpi dapat digunakan untuk mengungkap pesan bawah sadar atau permasalahan terpendam, baik berupa hasrat, ketakutan, kekhawatiran, kemarahan yang tidak disadari karena ditekan oleh seseorang. Ketika hal masalah-masalah alam bawah sadar ini telah berhasil diungkap, penyelesaian selanjutnya akan lebih mudah untuk diselesaikan. Hal-hal ini dilakukan untuk mengembangkan sesuatu yang kini dikenal sebagai "obat dengan berbicara". 

Hal-hal ini menjadi unsur inti psikoanalisis. Freud terutama tertarik pada kondisi yang dulu disebut histeria dan sekarang disebut sindrom konversi. Teori-teori Freud serta caranya mengobati pasien menimbulkan kontroversi di Wina abad kesembilan belas dan masih diperdebatkan sengit hingga sekarang. Gagasan Freud biasanya dibahas dan dianalisa sebagai karya sastra, filsafat, dan budaya umum, selain sebagai debat yang berketerusan sebagai risalah ilmiah dan kedokteran ini.




sumber  wikipedia.org

Perkembangan Kepribadian

Teori Psikoanalisis
Teori Psikoanalisis dikembangkan oleh Sigmund Freud. Psikoanalisis dapat dipandang sebagai teknik terapi dan sebagai aliran psikologi. Sebagai aliran psikologi, psikoanalisis banyak berbicara mengenai kepribadian, khususnya dari segi struktur, dinamika, dan perkembangannya.
 

a. Faktor-faktor  yang mempengaruhi perkembangan kepribadian 
Perkembangan kepribadian individu menurut Freud, dipengaruhi oleh kematangan dan cara-cara individu mengatasi ketegangan. Menurut freud, kematangan adalah pengaruh asli dari dalam diri manusia. 

Keterangan dapat timbul karena adanya frustasi, konflik, dan ancaman. Upaya mengatasi ketegangan ini dilakukan individu dengan : identifikasi, sublimasi, dan mekanisme pertahanan ego.

b. Tahap-tahap perkembangan kepribadian
Menurut Freud, kepribadian individu telah terbentuk pada akhir tahun ke lima, dan perkembangan selanjutnya sebagian besar hanya merupakan penghalusan struktur dasar itu. Selanjutnya Freud menyatakan bahwa perkembangan kepribadian berlangsung melalui 6 fase, yang berhubungan dengan kepekaan pada daerah-daerah erogen atau bagian tubuh tertentu yang sensitif terhadap rangsangan. Ke enam fase perkembangan kepribadian adalah sebagai berikut (Sumadi Suryabrata, 2005 : 172-173).

  1.  Fase Oral (oral stage) : 0 sampai kira-kira 18 bulan. Bagian tubuh yang sensitif terhadap rangsangan adalah mulut.
  2. Fase anal (anal stage) : kira-kira usia 18 bulan sampai 3 tahun. Pada fase ini bagian tubuh yang sensitif adalah anus.
  3. Fase Falis (phallic stage) :  kira-kira usia 3 sampai 6 tahun. Bagian tubuh yang sensitif adalah alat kelamin.
  4. Fase Laten (latency stage) : kira-kira usia 6 sampai pubertas. Pada fase ini dorongan seks cenderung bersifat laten atau tertekan.
  5. Fase Genital (genital stage) : terjadi sejak individu memasuki pubertas dan selanjutnya. Pada masa ini individu telah mengalami kematangan pada organ reproduksi.


Psikologi Kepribadian


Struktur Kepribadian Sigmund Freud

Teori Psikoanalisis
Teori Psikoanalisis dikembangkan oleh Sigmund Freud. Psikoanalisis dapat dipandang sebagai teknik terapi dan sebagai aliran psikologi. Sebagai aliran psikologi, psikoanalisis banyak berbicara mengenai kepribadian, khususnya dari segi struktur, dinamika, dan perkembangannya.

1. Struktur Kepribadian 
Menurut Freud (Alwisol, 2005 : 17), kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yaitu sadar (conscious), prasadar (preconsius), dan tak sadar (unconscious). Sampai tahun 1920an, teori tentang konflik kejiwaan hanya melibatkan ketiga unsur tersebut. Baru pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yaitu das Es, das Ich, dan das Ueber Ich. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi melengkapi gambaran mental terutama dalam fungsi dan tujuannya (Awisol, 2005 : 17)

Freud berpendapat bahwa kepribadian merupakan suatu sistem yang terdiri dari tiga unsur, yaitu das Es, das Ich dam das Ueber Ich (dalam bahasa inggris dinyatakan dengan the Id, The Ego, dan the Super Ego), yang masing memiliki asal, aspek, fungsi, prinsip operasi, dan perlengkapan sendiri. Ketiga unsur kepribadian tersebut dengan berbagai dimensinya disajikan dalam tabel berikut.





Efektivitas Kerja


Efektivitas adalah keadaan dan kemampuan berhasilnya suatu kerja yang dilakukan oleh manusia untuk memberikan guna yang diharapkan. Untuk melihat efektvitas kerja, pada umumnya dipakai empat macam pertimbangan, yaitu : Pertimbangan ekonomi, pertimbangan fisiologi, pertimbangan psikologi dan pertimbangan sosial.

 Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kerja yang diartikan sebagai keberhasilan melakukan program dipengaruhi oleh berbagai faktor - faktor yang dapat menentukan efektivitas kerja karyawan. Faktor - faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas kerja dalam organisasi :

1. Waktu
Ketepatan waktu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan merupakan faktor utama. Semakin lama tugas yang dibebankan itu dikerjakan, maka semakin banyak tugas lain menyusul dan hal ini akan memperkecil tingkat efektivitas kerja, karena membutuhkan waktu yang lama. Namun setiap orang biasanya memiliki waktu tertentu dimana orang tersebut bisa bekerja maksimum, untuk itu sebaiknya perencanaan kerja sebaiknya banyak dibebankan pada waktu tersebut, sehingga pekerjaan yang dilakukan bisa selesai dengan efektif.

2. Tugas
Karyawan harus diberitahukan maksud dan pentingnya tugas - tugas yang didelegasikan kepadanya.

3. Produktivitas
Seorang karyawan mempunyai produktivitas kerja yang tinggi dalam bekerja tentunya akan dapat menghasilkan efektivitas kerja yang baik demikian pula sebaliknya.

4. Motivasi 
Manajer dapat mendorong bawahan melalui perhatian pada kebutuhan dan tujuan mereka yang sensitif. Semakin termotivasi karyawan untuk bekerja secara positif, semakin baik pula kinerja yang dihasilkan.

5. Evaluasi Kerja
Manajer memeberikan dorongan, bantuan dan informasi kepada bawahan, sebaliknya bawahan harus melaksanakan tugas dengan baik dan menyelesaikan tugasnya untuk dievaluasi.

6. Pengawasan 
Dengan adanya pengawasan, maka kinerja karyawan dapat terus terpantau dan hal ini dapat memperkecil resiko kesalahan dalam pelaksanaan tugas.

7. Lingkungan
Lingkungan kerja adalah menyangkut tata ruang, cahaya alam dan pengaruh suara yang mempengaruhi konsentrasi seseorang dalam pelaksanaan tugas.

8. Perlengkapan dan Fasilitas
Adalah suatu sarana dan perlatan yang disediakan oleh pimpinan dalam bekerja. Fasilitas yang kurang lengkap akan mempengaruhi kelancaran karyawan dalam bekerja. Semakin baik sarana yang disediakan oleh perusahaan maka akan semakin baik pula kerja seorang karyawan dalam mencapai tujuan atau hasil yang diharapkan.




sumber : ocw.usu.ac.id

60 Detik Yang Mengubah Stres Buruk Menjadi Stres Baik


Proses modifikasi perilaku merupakan langkah utama yang memudahkan kita untuk merubah sikap, dan membuat sikap itu sesuai dengan kepribadian kita. Upaya untuk mengubah sebagian pola perilaku kita sangat menentukan dalam manajemen stres 60 detik dan dalam mengembangkan toleransi terhadap stres.

Ada beberapa metode dasar untuk mengubah sikap, dan metode tersebut membawa kita kedalam teknik - teknik manajemen stres 60 detik.

  1. Bebicara dengan diri sendiri secara positif. Bila kita berada dalam situasi yang penuh stres, ambilah waktu satu menit untuk menemukan sesuatu yang positif dari peristiwa itu. Hal buruk yang kita lakukan adalah mengatakan sesuatu negatif  kepada diri sendiri                                              
  2. Bayangkan hasil-hasil yang positif.  Ketika berada dibawah tekanan, umumnya kita membayangkan apa yang diharapkan apa yang diharapkan akan terjadi. Berhentilah dan ambilah waktu 60 detik untuk memikirkan hasil yang baik. Berharaplah untuk meraih sukses. Jika demikian hasil yang baik dari situasi stres akan datang sendirinya                                               
  3. Bersikap cukup fleksible untuk berubah.  Kita tidak perlu ragu untuk mengubah cara kita mendekati masalah. Dengan bersikap fleksibel, kita dapat menemukan metode yang lebih baik dalam mencapai tujuan dan mengatur hidup ini. kita harus memiliki kebijaksanaan dan keberanian untuk melakukan berbagai hal dengan cara yang lebih baik.                                                                                                                                                                                     
  4. Ambilah waktu istirahat.  Hanya sedikit diantara kita yang dapat bekerja lebih dari tiga jam atau empat jam tanpa kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi. Menyisihkan waktu istirahat untuk kepentingan diri sendiri akan menanamkan persepsi bahwa diri kita sangat berharga. Ketika kita berhasil membuat diri istimewa , secara otomatis kita akan memiliki cara pandang hidup yang lebih baik.                                                                                                                                                                                                                               
  5. Carilah waktu kerja dan lingkungan yang terbaik. Kebanyakan kita memiliki waktu sibuk dipagi atau malam hari namun setiap orang mampu menyelesaikan masalah dengan cepat diwaktu yang berbeda. Oleh karena itu rencanakan sebanyak mungkin jadwal pekerjaan pada periode waktu tersebut pada puncak energi anda.                                                                                      
  6. Berolahraga. Olahraga adalah salahsatu cara terbaik untuk melepaskan ketegangan dan kehawatiran. Olahraga juga membuat diri menjadi lebih berenergi dan segar.                                                                                                                                                                           
  7. Jangan tinggal dimasa lalu. Kita tidak bisa mengubah masa lalau, itu sebabnya menyesali kejadian yang sudah berlalu secara berlarut-larut kurang baik juga. Bersedihlah sebentar namun kemudian harus bangkit untuk memikirkan masa depan yang lebih baik.                                      
  8. Ubahlah atau hindari situasi. Semua orang memiliki sifat dalam kepribadian yang tidak sanggup  mengatasi situasi - situasi tertentu. ketika hal ini terjadi , ubahlah atau hindari hal ini sepenuhnya. Hal ini mungkin sulit untuk dilakukan, terutama jika berkaitan dengan pekerjaan atau karier. Tetapi kebanyakan orang menemukan bahwa teknik manajemen stres 60 detik sangat menolong untuk memperbaiki situasi mereka hingga  suatu titik dimana mereka sanggup menghadapi kondisi yang terburuk.

Kekuatan Dari Kesederhanaan


Buku ini ditulis oleh Jack Trout penulis Best-Seller, Postitioning dan Marketing Warefare bersama steve Rivkin.
Buku The Power Of Simplicity  memberikan pedoman bagi manajemen untuk menghentikan omong kosong dan bertindak benar.

Setelah membaca buku ini saya menyadari banyak hal yang sederhana dalam hidup tapi justru dibuat menjadi kompleks, yang mana tujuan yang diharapkan adalah kebanggaan karena telah menciptakan sesuatu yang kompleks. Padahal pada real nya justru hal yang kompleks tersebut dilakukan secara sederhana. Jadi kenapa harus membuat rumit sesuatu yang bisa dilaksanakan atau dikerjakan secara sederhana. Begitu kira-kira gambaran inti yang saya dapatkan dari buku ini.

Sebagai contoh yang diungkapkan oleh buku ini adalah kompleksitas bahasa. Diambil dari kliping yang dilaporkan Majalah Fortune  frasa- frasa manajemen yang digambarkan sebagai "memo dari neraka".  
  
Pemimpin puncak akan terbang untuk memaparkan visi ini. (Bos akan datang minggu depan)
Kita perlu membentuk dimensi untuk inisiatif manajemen ini. (Mari Kita semua membuat rencana)
Pekerjaan anda, untuk sementara, telah diputuskan ditahan. (Anda Belum Dipecat)

Teman- teman semua penghobi baca buku ilmiah atau buku lainnya tentu sering menjumpai suatu kalimat yang kompleks dengan kata- kata yang megah dan terlihat pintar, rumit dan signifikan  tapi  sulit untuk dipahami. Padahal maksud dan tujuan dari kalimat tersebut sangat sederhan ketika dilakukan didalam praktiknya. Jadi kenapa tidak membuat kalimat yang sederhana saja agar setiap orang bisa langsung memahami makna dari suatu kalimat. Begitu kira-kira makna yang tersirat dari buku The Simple of Simplicity dalam hal kompleksitas bahasa.


Rangkuman Sederhana
  • Kompleksitas bukan untuk dikagumi, tetapi untuk dihindari.
  • Percayai akal sehat anda. Akal sehat akan memberitahu anda apa yang mesti anda kerjakan.
  • Ide-ide besar hampir selalu muncul dengan kata - kata kecil.
  • Jika anda menata pikiran, Anda akan berpikir lebih jernih.
  • Jangan percayai siapapun yang anda tidak pahami ucapannya.
  • Intinya bukanlah bagaimana anda mengenali konsumen, tapi bagaimana konsumen mengenali anda
  • Deklarasi misi yang tidak definitif adalah indikasi bahwa perusahaan tidak tahu kemana harus melangkah
  • Pemimpin yang baik tau harus kemana melangkah.
  • Mengkhayal hanya pantas di negeri dongeng. yang mesti anda urusi adalah realitas.
  • Masa depan akan menjadi milik perusahaan yang terorganisasi baik dan berfokus baik.
  • Beritahu saya tentang ide anda.
  • Tunjukan ide orang lain pada saya.
  • Tujuan serupa dengan mimpi. Bangun dan hadapi realita.
  • Bangunlah pangsa pasar, maka angka-angka akan datang sendirinya.
  • Bekerja lebih keras tidak seefektif bekerja lebih pintar.
  • Anda tidak akan menemukan kesuksesan didalam diri anda. Anda akan menemukan kesuksesan didalm diluar diri anda.
  • Bantahan terbaik kepada pengecam anda adalah berkata benar.     
    Kesimpulan
    Diakhir buku ini terdapat kesimpulan yang berisi
    Jangan salah sangka. Tidak semua orang tertarik dengan "kompleksitas". Mereka yang memperaktikan kesederhanaan justru sangat sukses.


Tes EPPS


Tes EPPS tergolong sebagai tes kepribadian. Tujuan pengukuran dari tes EPPS adalah untuk melihat kebutuhan-kebutuhan seseorang yaitu kebutuhan khusus yang dimiliki seseorang. Menurut Edwards, kebutuhan-kebutuhan seseorang dapat diklasifikasikan kedalam 15 golongan yang dibuatnya berdasarkan suatu daftar kebutuhan pokok manusia.

Interpretasi dilakukan jika jumlah nilai konsistennya adalah sama dengan 10, jikan jumlahnya kurang dari 10 maka tidak perlu diinterpretasi. Hal ini terjadi karena subjek tidak konsisten dalam memilih jawaban, mungkin dikarenakan subjek plin plan atau ada faktor kelelahan selama mengerjakan tes ini sehingga membuat tesnya menjadi tidak valid. Pada tes EPPS terlihat kebutuhan-kebutuhan seseorang yang dapat diklasifikasikan kedalam 15 golongan yang di buatnya berdasarkan suatu daftar kebutuhan pokok manusia, yang disusun oleh HENRY A. MURRAY dan kawan-kawan (1983).

Achievement

Deference

Order                  
Exhibition

Autonomy

Affilitation

Interaception

Succorance

Dominance

Abasement

Nurturance


Change

Endurance

Heterosexuality

Aggresion
Untuk berbuat sebaik mungkin untuk menyelesaikan tugas-tugas  yang sukar dan menarik.
Untuk menyuruh orang lain memutuskan sesuatu pendapat bagi dirinya, untuk menyesuaikan apa yang diharapkan oleh orang lain terhadap dirinya.
Untuk berbuat secara teratur dan rapih dengan perencanaan sebelumnya.
Untuk menjadi pusat perhatian, untuk menonjolkan suatu prestasi atau untuk menanyakan keberhasilan.
Untuk berdiri sendiri dalam membuat keputusan untuk menghindari urusan dan campur tangan orang lain.
Untuk baik hati, untuk ikut ambil bagian dengan teman-teman sekelompok, untuk kerja bersama atau berbuat sesuatu dengan orang lain.
Untuk menganalisa motif-motif dan perasaan-perasaan seseorang, untuk memahami dan mengerti perasaan-perasaan orang lain.
Untuk menerima bantuan atau affeksi dari orang lain, untuk supaya orang lain bersimpati dan mengerti tentang dirinya.
Untuk mengatasi dan mempengaruhi orang lain, untuk memerintah orang lain, untuk ingin diperlakukan sebagai pemimpin.
Untuk merasa bersalah bila orang lain berbuat kesalahan, untuk menerima fitnahan, merasa takut dan rendah diri.
Untuk menolong teman dan orang lain, untuk membantu orang lain yang mengalami kesulitan, untuk mengampuni dan berlaku dermawan terhadap orang lain.
Untuk berbuat sesuatu yang baru dan berbeda, untuk ingin mengikuti perubahan-perubahan keadaan dan kebudayaan.
Untuk bertekun dalam tugas-tugas yang dihadapinya, untuk tidak ingin diganggu selama dalam bertugas.
Untuk bergaul bebas dengan lawan jenisnya, untuk ikut aktiv dalam pertemuan dimana orang dari jenis lain hadir.
Untuk menyerang pendapat orang lain yang berbeda, untuk suka mempermainkan orang lain.

Manual EPPS, Urusan Reproduksi dan Distribusi Alat Tes Psikologi (URDAT), Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Jakarta 1985.

Jika pelanggan kecewa

Pelanggan Anda yang paling tidak puas adalah sumber terbaikmu untuk belajar. ~ Bill Gates

Jadi kalau ada pelanggan yang marah atau kecewa, jangan dijauhi atau bahkan ikut emosi serta menutup diri. Jadikan pelajaran berharga untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas produk dan layanan.