EQ Bagi Anda Dan Anak Anda

Apakah kecerdasan emosional itu?

Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul Emotional Intelegence menerangkan bahwa jika kita memahami bagaimana otak kita bekerja, kita bisa sendiri mengatasi gejala-gejala emosi kita sendiri secara lebih efektif dan juga mengetahui sebagian emosi kita yang merusak kemauan terbaik dalam diri kita. 

Cerdas emosional=Kesuksesan?

Jawabann nya adalah ya. karena kecerdasan emosional merupakan hal penting menuju kesuksesan hidup, kecerdasaan emosional dibentuk oleh situasi dimasa anak di usia dini dan perkembangan lebih lanjut sepanjang usia sekolahnya. Orangtua, merupakan faktor paling mempengaruhi Ei anak. 

Berikut komponen besar EI

- Kemampuan mengenali perasaan
  anda dan menyuarakan perasaan-    
  perasaan itu.
- Mengetahui hubungan antara pikiran,
  perasaan dan reaksi.
- Kemampuan membuat keputusan,
  bertanggungjawab atas tindakan -    
  tindakan dan mengetahui    
  konsekuensinya.
- Kemampuan mengenali kapan batin
  anda mengatur rasio anda.
- Kemampuan memonitor suara hati
  dan menanggapi pesan- pesan negatif
  dan remeh ketika pesan itu
  menampakan diri.
- Kemampuan mengatasi sendiri rasa
  takut, gelisah, marah dan sedih. 
- Kemampuan menjadi seorang yang
  bisa terbuka dalam hubungan
  hubungan yang tepat memulai
  pembicaraan tentang perasaan pribadi
  anda.
- Mengetahui teknik- teknik mengatasi
  stres, bagaimana melakukan latihan
  mental, mengarahkan imajinasi dan
  metode rileksasi.
- Kemampuan berempati dengan orang
  lain.
- Kemampuan bersikap tegas ketika ada
  peningkatan kebutuhan.
- Kemampuan mengatasi konflik tanpa
  memunculkan sikap agresif.
- Kemampuan menerima keadaan diri
  wecara utuh; bangga dengan
  kelebihannya dan mengakui akan
  kelemahannya.
- Kemampuan bekerja dalam kelompok.






Perilaku utang


Dulu waktu kuliah S2, sempat soal pinjam meminjam uang ini mau aku jadikan topik penelitian untuk menulis thesis namun tidak jadi.

Di budaya jawa, memang orang kalau sudah meminta pinjam uang dan ditolak, rasa malunya besar sekali dan itu berubah jadi marah. Lah, mau pinjam uang, ditolak, malah marah... lucu bukan... Tapi itulah yang terjadi.

Kita juga sulit menolak dengan alasan tidak ada uang, orang tidak akan percaya.

Di sisi lain, orang yang pinjam uang, kalaupun dia dapat rejeki berlebih, maka prioritas membayar utang adalah yang terakhir.

Sebenarnya ada dua tipe pengutang, pertama yang ingin segera utangnya lunas, ini biasanya jarang utang dan kalau utang biasanya kalau terdesak saja. Kalau dia punya rejeki lebih, maka dia akan segera membayar. Utang akan membuatnya susah tidur.

Tipe yang lain, dia nyaman dengan utang, kalaupun ada rejeki lebih, dia tetap akan membayar sesuai dengan aturan, malah kalau bisa dijadwal ulang, akan diperpanjang. Tak jarang mereka akhirnya gali lubang tutup lubang.

Strength Deployment Inventory (SDI)

[Oleh: Nur Agustinus]

Apa itu SDI? SDI (Strength Deployment Inventory) adalah sebuah perangkat psikometri untuk mengetahui tipologi seseorang dan bagaimana motivasi orang tersebut dalam situasi konflik. Saya hanya bisa menjelaskan secara singkat saja di sini dan bila ingin mengetahui lebih lanjut, bisa lihat di http://www.personalstrengths.com.au/

Dasar dari SDI ini adalah teori yang dinamakan "Relationship Awareness Theory" yang menyatakan: "motivation is the basis of all behaviour, and that we all need to feel a sense of self worth and self esteem in our relationships with others". SDI ini dirancang oleh Elias H. Porter, PhD. Tentang Elias Porter bisa dibaca di http://en.wikipedia.org/wiki/Elias_Porter

Ketika mengajar beberapa waktu lalu, dalam rangka mengenal diri sendiri dan tim kerja, mahasiswa diminta mengerjakan tes SDI ini. Setelah membahas tentang tipe-tipe dari hasil masing-masing tes, beberapa mahasiswa malah bertanya, tipenya pak Nur apa? Saya memang pernah mencoba tes ini saat diperkenalkan pertama kali, namun karena saya waktu itu merasa kurang pas, maka saya mencoba lagi mengerjakan tes tersebut. Ternyata hasilnya dengan yang lalu tidak jauh berbeda (meski tidak sama persis).

SDI ini membagi orang dalam 4 tipe utama, yaitu tipe biru, merah, hijau sertga gabungan dari biru-merah-hijau yang disebut sebagai HUB. Mengenai penjelasan tentang bagaimana sifat masing-masing tipe ini, bisa dibaca di http://componentleadership.pmi.org/februarymeeting2009/Pres%20and%20Bios/Understanding%20and%20Leading%20your%20team%20Final%20-Treasure.pdf



Kembali ke soal "Relationship Awareness Theory" ada 4 premis dalam teori ini, yaitu:
1.Behaviour is driven by motivation to achieve or maintain self-worth;
2.Motivation changes in conflict;
3.Strengths, when overdone or misapplied, can be perceived as weaknesses and;
4.Personal filters influence perceptions of self and of others.

Nah, notes yang ingin saya tulis adalah hasil dari tes yang saya buat. Tes ini dibagi dua kondisi, pertama akan memberi gambaran tentang apa tipe saya dalam kondisi biasa, dan bagaimana perilaku saya dalam situasi konflik. Dari hasil tesnya, ternyata saya termasuk tipe HUB.



Dalam gambar terdapat dua titik. Penjelasannya adalah, dalam situasi normal (biasa-biasa saja), saya termasuk tipe HUB (kedua titik nampaknya masih dalam posisi HUB). Nah, apa artinya jika termasuk tipe HUB ini? Berikut penjelasannya:



Sebenarnya, sifat seseorang itu bisa positif bisa juga negatif. Misalnya, orang yang memiliki sifat percaya, kalau saking terlalu percayanya, bisa menjadi orang yang naif. Atau orang yang baik hati, negatifnya bisa menjadi orang yang pasrah. Nah, dalam tipe HUB ini juga sama, berikut positif dan negatifnya:



Sekarang, bagaimana menjelaskan pergerakan dari titik pertama ke titip kedua. Titik kedua adalah bagaimana perilaku saya ketika menghadapi konflik. Menurut teorinya, keadaan konflik bisa dibagi dalam 3 tahap. Pada tahap pertama, seseorang yang mengalami konflik akan memperhatikan 3 hal, yaitu dirinya, problemnya dan orang lain (oposannya). Tahap kedua, dia hanya memperhatikan dirinya dan problem yang ada, sementara jika sudah sampai pada tahap ketiga atau akhir, dia hanya akan mempedulikan dirinya saja. Tahap ketiga ini dapat dikatakan sebagai fenomena "do whatever is necessary to save myself".

Dari hasil tes itu, maka pergerakan perilaku saya adalah R - (B G). R adalah Red (merah), B adalah Blue (biru) dan G adalah Green (hijau). Di bawah ini adalah tabel bagaimana perilaku dalam tahapan konflik menurut warnanya.



Jadi, kalau melihat hasilnya, jika saya berada dalam situasi konflik, maka respon perilaku saya di awal (tahap satu) adalah Red, artinya: "Simply rising to the challenge being offered". Nah, karena tahap kedua dan ketiga itu bisa bolak balik (dalam kurung artinya responnya bisa B - G atau G - B, maka ada kemungkinan jika tahap pertama ini sudah terlewati, maka saya akan "Giving in and letting the opposition have it’s way" atau "Trying to escape from the opposition". Selanjutnya pada tahap akhir, saya bisa menjadi "Having been completely defeated" atau "Having to retreat completely".

Begitulah kira-kira hasil pengukuran Strength Deployment Inventory yang saya lakukan.

Jika Anda tertarik dengan SDI ini, silahkan klik link (url) yang ada di notes ini. Siapa tahu berguna.

Salam,
nur agustinus

Links:
  1. http://www.personalstrengths.com.au/
  2. http://en.wikipedia.org/wiki/Elias_Porter
  3. http://componentleadership.pmi.org/februarymeeting2009/Pres%20and%20Bios/Understanding%20and%20Leading%20your%20team%20Final%20-Treasure.pdf
Surabaya, 29 April 2011

Triangular Theory of Love dari Sternberg

 



 
Sekali-kali mau sharing ilmu tentang cinta.... ada teori cinta yang dikemukakan oleh Robert Sternberg, di mana menurutnya komponen cinta itu ada tiga hal, yaitu (1) passion atau gairah, (2) intimacy (keakraban), dan (3) komitmen. Nah karena ada tiga komponen ini, maka teorinya disebut triangular of love... tapi bukan diterjemahkan sebagai cinta segitiga ya... hehehehe...

Nah teori ini bilang bahwa cinta yang lengkap itu kalau ada ketiga hal tersebut. Ini bentuk ideal yang disebut consummate love. Ada gairah, ada keakraban dan ada komitmen. Seringkali, cinta itu ternyata sambil berjalannya waktu, berkurang satu ada dua komponen sehingga hanya tersisa dua komponen atau bahkan satu saja.

Pada gambar bisa dilihat sepintas apa nama dari cinta tersebut. Biasanya, ada pasangan yang hanya tinggal komitmen saja, sudah tidak ada gairah dan keakraban. Memang dalam kenyataannya itu juga sering terjadi. Mereka masih menjalin komitmen sebagai suami istri tapi sudah tak ada lagi gairah dan kebersamaan.

Bisa juga cinta setia (companionate love), di mana hanya ada dua aspek yaitu keakraban dan komitmen. Bisa juga cinta romatik, ada gairah dan keintiman saja, tanpa ada komitmen. Nah, bagaimana cinta Anda terhadap pasangan Anda, atau mungkin kepada yang lain? Silahkan dianalisis sendiri...
 
Detail penjelasan arti tiap-tiap cinta ini, bisa dibaca di bawah ini yang saya kutip dari http://elfagustiarapratama.blogspot.com/2012/04/triangular-theory-of-love-strenberg.html

Menurut sternberg (1988) cinta adalah sebuah kisah, kisah yang dituliskan oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan persaan seseorang terhadap suatu hubungan. Ada kisah tentang perang memperebutkan kekuasaan, misteri, permainan, dan sebagainya. Kisah ini biasanya mempengaruhi orang bagaimana dia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan.

Sternberg (1988) terkenal dengan teori tentang Triangular Theory of Love (segitiga cinta). Didalam segitiga cinta itu terdapat komponen-komponen, yaitu :

1. Keintiman ( Intimacy )
Keintiman adalah elemen emosi, yang di dalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan ( trust ), kedekatan dan keinginan untuk membina hubungan.

2. Gairah ( Passion )
Gairah adalah elemen motivasional yang didasari oleh dorongan dan dalam dirinya yang bersifat seksual, yang mengacu pada kebangkitan fungsi emosi dan fungsi biologis yang kuat.

3.Komitmen ( Commitment )
Komitmen adalah suatu konstruk psiologis yang berhubungan dengan keputusan tentang ketertarikan seseorang dengan orang lain dalam suatu hubungan yang mengandung unsur elemen kognitif berupa keputusan untuk secara sinambung dan tetap menjalankan suatu kehidupan bersama.

Setiap komponen itu pada setiap orang berbeda derajatnya,. Ada yang tinggi hanya di gairah, tetapi rendah di komitmen. Sedangkan cinta yang ideal itu apabila ketiga elemn itu berada dalam proposi yang sesuai pada suatu waktu tertentu.yang perlu diwaspadai adalah bahwa cinta dalam sebuah hubungan ini tidak selalu konteks perkawinan. Ketiga komponen ini dapat membentuk berbagai macam tipe hubungan, yaitu :

a. Nonlove
Tidak adanya ketiga komponen cinta, hal ini mendeskripsikan sebgaian besar hubungan interpersonal yang hanya interaksi kasual saja.

b. Liking
Elemen yang ada hanya intimasi. Ada kedekatan, pemahaman, dukungan emosional, afeksi, keterikatan dan kehangatan. Didalam tipe ini hanya ada persaan suka bukan cinta.

c. Infatuation Love
Elemen yang ada dalam tipe ini adalah hasrat. Ini adalah “ cinta pada pandangan pertama”, ketertarikan fisik yang kuat dan gairah seksual tanpa intimasi atau komitmen.kegilaan seperti ini dapat bergelora secara tiba-tiba dan pada sama cepatnya atau dengan beberapa syarat, akan berlangsung dalam waktu yang panjang.

d. Empty Love
Elemen yang tersedia hanyalah komitmen. Hubungan yang lama semakin membosankan. Cinta kosong ini sering ditemukan dalam hubungan jangka panjang yang telah kehilangan komponen keintiman dan hasrat, atau dalam pernikahan yang dijodohkan.

e. Romantic Love
Adanya unsur intimasi dan hasrat. Hubungan jenis ini saling tertarik secara fisik dan terikat secara emosional. Akan tetapi, mereka tidak terkomitmen pada yang lain.

f. Companite Love
Elemen intimasi dan komitmen. Hubungan jenis ini adalah hubungan pertemanan jangka panjang berkomitmen, seringkali terjadi dalam hubungan pernikahan dimana ketertarikan fisik sudah paddam tapi pasangan tersebut merasa dekat satu dengan yang lain dan membuat keputusan untuk tetap bersama.

g. Fatous Love
Hanya memiliki hasrat dan komitmen. Dimana cinta ini sulit untuk dipertahankan karena kurang adanya aspek emosi.

h. Consummate Love
Ketiga komponen ada dalam cinta “sempurna” ini, yang diperjuangkan banyak orang, terutama dalam hubungan romantis. Lebih mudah mencapai daripada mempertahankannya. Didalam hubungan ini bukan berarti tak ada persoalan atau konflik, konflik tetap ada, namun hanya berbeda pada aspek solusinya.

Tiga jenis ingatan




Ingatan atau memori itu ada tiga macam, yakni sensor memori, memori jangka pendek atau disebut juga memori kerja (working memory), dan memori jangka panjang. Apa itu?

Seberapa banyak yang Anda ingat mengenai peristiwa yang terjadi kemarin? Apakah Anda ingat hari Selasa lalu, Anda makan siang apa? Ketika Anda jalan-jalan ke mall, seberapa banyak yang Anda ingat? Ketika Anda menonton film The Billionaire, apa saja yang Anda ingat? Mengapa tidak semuanya bisa ingat? Ini karena ketika sebuah informasi tertangkap oleh sensor memori, maka butuh perhatian kita agar bisa masuk ke memori jangka pendek. Kalau tidak ada perhatian, maka akan lewat alias lupa. Tapi, masuk ke memori jangka pendek yang biasanya hanya bertahan sekitar 30 detik saja, itu butuh diulang-ulang kembali agar bisa menjadi ingatan jangka panjang. Contohnya, kalau Anda mengulang menonton film The Billionaire, maka makin banyak yang Anda ingat.

Pelajaran juga sama. Kalau Anda hanya membaca sekali, dijamin lupa dalam waktu beberapa jam, hari, minggu atau bulan. Anda mesti membaca dan mengulang, mengulang dan mengulang. Cara mengulang tidak hanya dengan membaca, tapi mendiskusikan dengan teman, itu berarti sama dengan mengulang juga. Kita mendengar lagi, membicarakannya lagi, akan membuat ingatan masuk ke memori jangka panjang.

Putus? Sambung kembali...

Dalam pertemanan, persahabatan atau bahkan bisnis serta pernikahan, ada kalanya kita konflik dengan partner kita. Itu wajar, sebab manusia pada dasarnya memiliki sifat yang berbeda-beda. Kalau kita belajar antropologi, kita tahu bahwa semakin beragam manusia, semakin punya potensi konflik besar. Namun, kalau kita bicara dalam hubungan antara dua orang, di mana dulunya adalah sahabat atau partner, namun kemudian konflik, bertengkar dan merasa yang satu berkhianat sehingga yang lain menjadi jengkel, ada sebuah nasihat yang pernah saya dengar dari seorang teman saya.

Hidup dan pertemanan itu ibarat sebuah tali yang kita pegang di ujung-ujungnya.
Ketika kita bertengkar, maka tali itu sama dengan kita putus.
Dengan putusnya tali itu maka kita bisa semakin jauh.
Namun, tali itu masih bisa disambung kembali....
itu kalau kita mau menyambungnya...
dan....
ketika kita menyambung tali itu...
apa yang terjadi?
Tali itu ternyata semakin pendek...
Setiap kali kita putus, namun kita sambung kembali, maka tali itu akan semakin pendek...
Menjadi pendek karena ada yang kita gunakan sebagai simpul talinya.
Semakin pendek, berarti semakin dekat jarak kita...
Semakin mengenal...
Semakin akrab...
Semakin tahu tentang teman kita...
Tapi...
kalau tali itu kita putus dan tidak kita sambung lagi...
maka akan putus selamanya.
Memang ketika sudah ada keretakan atau putus tali pertemanan, suasana menjadi tidak enak.
Ada kepercayaan yang dikhianati...
ada sifat yang tidak disuka yang membuat kita muak...
tapi...
pertemanan itu bukan mencari orang yang sama dengan kita.
Manusia itu berbeda-beda antara satu dengan yang lain...
Perbedaan itu dibuat oleh Yang Maha Kuasa agar manusia saling melengkapi...
Maka jalinlah pertemanan...
Ikat kembali tali yang telah putus...
maka akan makin dekat, makin dekat dan makin dekat...
hingga kita bisa rasakan pertemanan serta persahabatan yang sejati...
tanpa ada lagi ingin menuntut, tanpa ada lagi rasa ingin menguasai..
semua yang ada hanya untuk berbagi...
demi teman dan sahabat yang kita miliki...
dengan cinta...

Apa kepribadian bermain Anda?



Bermain dengan bekerja itu berbeda. Saat bermain, kita langsung mendapatkan yang kita inginkan yaitu kesenangan. Bekerja atau bahkan belajar adalah sebuah usaha yang hasilnya baru kita nikmati setelah berakhir. Itu membuat bermain lebih menyenangkan dan bisa membuat kita ketagihan. Stuart Brown melakukan penelitian dan menggolongkan manusia dari caranya bermain. Menurutnya, lawan kata dari bermain bukan bekerja, tapi depresi. Orang yang tidak suka bermain adalah orang yang mengalami kesedihan. Saat bermain orang akan gembira. Di bawah ini ada artikel yang ditulis oleh Tanadi Santoso, yang juga pernah memberikan ceramah kepada para dosen di Universitas Ciputra tentang hal ini. Berikut artikelnya saya kutip di sini:

Bermain selalu lebih menyenangkan daripada bekerja. Secara natural manusia melakukan kegiatan bermain sejak kecil, dengan antusias, semangat, dan penuh kegembiraan. Kita mulai terpasung ketika menjadi dewasa dan menganggapnya sebagai sesuatu yang “berdosa”, “kekanak kanak an”, dan tidak “bertanggung jawab”. Stuart Brown, pendiri National Institude of Play, mencoba menggali kembali esensi bermain ini dalam riset panjang puluhan tahun.

Menurut Neuroscientist Jaak Panksepp, penelitian pada hewan, menunjukkan bahwa “bermain” telah ada sejak jaman dinosaurus, dan bermukim pada reptilian brain kita, dimana kegiatan survival, bernafas, kesadaran juga berada. Kera, anjing, kucing, dan binatang lainpun memiliki kecenderungan untuk melakukan kegiatan bermain ini, setelah kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup terpenuhi.

Bermain adalah kunci terbesar pada kreatifitas dan inovasi, dan merupakan kunci pada peningkatan IQ, optimisme, kebahagiaan, dan umur panjang kita. Einstein, Picasso, Michaelangelo, dikenal sebagai orang yang penuh semangat bermain. Semua dari kita, juga memulai kehidupan kanak2 kita dengan bermain, dan pelahan lahan mengundurkan diri dari kegiatan ini menjelang dewasa.

"Bermain" adalah kegiatan yang lebih mementingkan kenikmatan daripada tujuan pencapaiannya; dilakukan dengan antisipasi diri sendiri tanpa paksaan apapun; membuat kita lupa diri dan hanya fokus pada apa yang kita lakukan; menghanyutkan sehingga lupa waktu; menimbulkan idea baru dan otak yang segar sehingga meningkatkan kreatifitas dan inovasi; dan setelah selesaipun masih membuat kita ingin melakukannya lagi lain kali. Inilah karakter dari “bermain”.

Ada 8 personality orang didasarkan pada caranya bermain.

1. The Joker, yang selalu bersenda gurau dalam hal apapun (tiba2 teringat kawan saya Joger).

2. The Kinesthete, orang yang selalu bergerak untuk dapat berpikir, jalan, olah raga, break dance, adalah caranya bermain.

3. The Explorer, seperti Richard Branson, yang melakukan esplorasi aneh2 dan sering menyengsarakan tubuh dalam mencari kebahagiaan bermainnya.

4. The Competitor, pemain yang mementingkan sukses dan kemenangan dalam berkompetisi apa saja.

5. The Director, pemain yang ingin menjadi dalang dan pengatur semua hal, berkuasa dan menunjukkan kekuasaannya.

6. The Collector, selalu ingin mengumpulkan sesuatu, perangko, koin, barang antik, sepatu, atau apa saja untuk museum kehidupannya.

7. The Artist, yang unik dan ingin eksistensi dirinya diakui: penulis, pelukis, penari, pemahat.

8. The Storyteller, pencerita, seperti para pembuat filem, penulis buku, bahkan orang2 penari, acting, dan guru pun termasuk pada kelompok orang yang menemukan dirinya bermain dengan bercerita.

Setiap orang menyukai hal yang berbeda, bahkan bisa saja “bermain” nya seseorang adalah “siksaan” orang lain: memancing, sepak bola, golf, mendaki gunung, gameboy, facebook, balapan mobil, dan seterusnya. Bermain yang berlebihan pun tidak baik, karena menjadi sebuah kecanduan dan kegilaan.

Kalau anda pikirkan kembali, orang2 yang paling menarik dalam kehidupan kita, adalah orang2 yang selalu bermain pada kehidupannya, dengan caranya sendiri. Banyak orang kehilangan jiwa bermainnya, tercecer pada perjalanan kehidupan yang secara pelahan menelan dan membunuh semangat kekanak kanakan yang bersinar pada dirinya.

Ada 5 langkah yang membantu kembali menumbuhkan semangat ini, dan memeliharanya:

Remember back your Playtime. Ingatlah kembali nikmatnya bermain dulu. Apa yang dulu membuat anda bahagia pada saat kanak kanak. Apa yang membuat anda ingin bangun pagi, dan melupakan kelelahan anda, sehingga yang ada hanya kebahagiaan dan nikmatnya saja?

Expose yourself to Play. Temui banyak permainan. Berjalanlan pada kehidupan yang mempunyai banyak kesempatan bermain; carilah teman, pekerjaan, kegiatan, dan komunitas yang mempunyai kesamaan dengan gaya kenikmatan bermain anda.

Give yourself permission. Ijinkan diri anda untuk bermain. Kekanak kanakan, sedikit kegilaan, nonsense, bodoh, lucu. Bebaskan diri anda dari ketakutan, lupakan batas2nya, ijinkan diri anda kembali bermain. Mungkin hanya untuk waktu yang pendek, sekali seminggu untuk 2 jam, ijinkan, dan rasakan kembali semangat bermain anda menghidupkan jiwa anda.

Combine play to your work. Sambungkan “bermain” dan “bekerja” anda. Bawalah esensi bermain anda pada pekerjaan anda. Hiaslah ruang kerja anda menjadi menyenangkan, bawalah pekerjaan anda pada perjalanan bermain anda. Gabungkan konsep bermain anda pada pekerjaan anda, sehingga anda akan mulai mencintai pekerjaan anda seperti juga anda menginginkan waktu lebih untuk bermain anda. Pekerjaan terbaik adalah bermain, sehingga hidup kita bisa menjadi “bermain saja kerjanya”.

Nourish your state of play. Peliharalah semangat bermain anda. Berhati hatilah pada penghadang dan pembunuh “semangat bermain”. Ciptakan kultur dan semangat memelihara kenikmatan dan kegiatan bermain ini saat anda bermain ataupun bekerja. Temukan network yang tepat dalam memelihara semangat ini. Bentuklah kegiatan kehidupan yang mengutamakan bermain sebagai landasan kehidupan.

Semangat bermain, akan menumbuhkan kreatifitas dan inovasi. Bermain juga membuat anda semakin menguasai sesuatu bidang, karena larutnya kita saat bermain akan membuat kita menjadi lebih ahli dalam bidang tersebut. Dan bermain adalah sebuah kenikmatan, sebuah kebahagiaan. Salam bermain.

*) Tanadi Santoso
**) Inpired by the book: PLAY by Stuart Brown,MD